Bos Gojek Ungkap Alasan Tren Startup PHK

Startup di Asia Tenggara dinilai menghadapi 'musim dingin'. Petinggi Gojek pun mengungkapkan alasan di balik maraknya startup PHK.
Desy Setyowati
8 Agustus 2022, 14:09
shopee, gojek, startup, phk
Katadata
Diskusi Katadata Forum dengan tema "Transformasi Indonesia Menuju Raksasa Ekonomi Digital" di Jakarta, pada 2018.

Komisaris Gojek Pandu Sjahrir mengatakan, startup di Asia Tenggara menghadapi ‘musim dingin’ saat ini. Ia pun mengungkapkan alasan di balik maraknya perusahaan rintisan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Setidaknya ada tujuh startup yang mengonfirmasi telah melakukan PHK per awal Juli. Mereka adalah TaniHub, Zenius, LinkAja, Pahamify, JD.ID, Mobile Premier League (MPL), dan Lummo.

Namun kini, startup pendidikan Zenius kembali melakukan PHK. Jumlahnya disebut-sebut mencapai 600 orang.

Pandu Sjahrir mengatakan, krisisi energi dan perang Rusia - Ukraina yang berkepanjangan berdampak terhadap perusahaan di seluruh dunia. Investor bahkan menahan diri untuk berinvestasi di startup.

Advertisement

Bahkan, valuasi sejumlah startup turun tajam. “Jika Anda melihat valuasi perusahaan teknologi swasta, rata-rata, telah terjadi penurunan 30% di pasar swasta,” kata Pandu dalam webinar bertajuk ‘How to Navigate Southeast Asia’s Tech Winter’ dikutip dari laman resmi AC Ventures, pekan lalu (4/8).

“Jika Anda melihat pasar publik, (penurunan valuasi) bisa sampai 50% hingga 80%, berdasarkan negara tempat Anda beroperasi,” tambah Founding Partner AC Ventures itu.

Valuasi induk Shopee, Sea Group tercatat turun dari sekitar US$ 200 miliar pada Oktober 2021 menjadi US$ 49 miliar pada akhir pekan lalu (5/8) menurut data YCharts.

Sedangkan kapitalisasi pasar Grab juga anjlok dari sekitar US$ 40 miliar saat mencatatkan saham perdana alias IPO menjadi US$ 14,6 miliar.

Di tengah kondisi itu, Pandu pun menyarankan para pendiri startup untuk mengubah pedoman mereka. “Jadi, apa artinya ini bagi kalian semua sebagai pendiri atau anggota chief level? Ini tentang pentingnya efisiensi modal,” katanya.

“Dalam penggalangan dana, jika memungkinkan, perpanjang runway modal menjadi 36 hingga 48 bulan untuk mengatasi pasang surut dengan lebih baik. Modal murah tidak akan masuk untuk sementara waktu,” tambah dia.

Runway adalah waktu yang dimiliki oleh perusahaan rintisan sebelum kehabisan uang.

Menurutnya, para pendiri startup di seluruh dunia perlu berfokus untuk memperkuat bisnis dan mengantisipasi risiko.

Dalam istilah startup, itu bisa berarti meningkatkan 'take rate' perusahaan atau memperpendek jalan menuju profitabilitas. Take rate dalam bahasa e-commerce adalah biaya komisi yang dibebankan ke konsumen.

Tokopedia misalnya, menambahkan tambahan biaya transaksi Rp 1.000 per 3 Agustus.

“Dalam kondisi pasar seperti ini, tidak ada yang akan menyalahkan Anda untuk ini,” ujar Pandu.

Selain itu, ia menyarankan pendiri startup berfokus menggandakan kualitas tim. “Ini adalah waktu terbaik bagi Anda untuk fokus menjadi lebih ramping terkait tim,” kata Pandu.

“Jika Anda memiliki beberapa anggota B atau B+, mungkin ini saat yang tepat bagi Anda untuk mengatakan: 'Anda tahu, kami tidak mampu membeli talenta ini. Tapi kami mampu membeli satu orang A+.’ Satu orang A+ ini sebenarnya setara dengan lima atau enam orang B+,” tambah dia.

(REVISI: Ada perubahan pada judul dan pengantar Pukul 16.52 WIB)

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait