Rupiah Menguat ke Level Rp 14.082 per dolar AS Usai Pertemuan G20

Penguatan rupiah diikuti sejumlah mata uang negara Asia, seperti dolar Hongkong, Yuan Tiongkok dan Ringgit Malaysia.
Agatha Olivia Victoria
1 Juli 2019, 10:09
Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Nilai tukar rupiah hari ini, Senin (1/7) menguat di level Rp 14.082 per dolar AS di perdagangan pasar spot. Mengutip data Bloomberg, nilai tersebut naik 0,31% dibanding penutupan tadi malam Rp 14.126 per dolar AS.

Penguatan nilai rupiah, diiringi oleh penguatan beberapa mata uang negara-negara di Asia, seperti dolar Hongkong menguat 0,04% terhadap dolar AS, Yuan Tiongkok menguat 0,15%, Ringgit Malaysia menguat 0,12%. Di tengah penguatan sejumlah mata uang negara lain,  Yen Jepang dan Dolar Singapura justru melemah terhadap dolar AS masing-masing sekitar 0,37% dan 0,03%.

(Baca: Dipengaruhi Faktor Global, Rupiah Cuma Menguat Tipis Pasca Putusan MK)

Pertemuan G20 di Osaka, Jepang selesai berlangsung kemarin. Pertemuan Presiden Trump bertemu dengan Presiden Xi Jinping  yang banyak ditunggu pelaku pasar pun akhirnya terlaksana pada Sabtu (29/6). Walaupun belum memberikan hasil yang pasti, pertemuan tersebut telah memberikan sentimen positif kepada beberapa nilai tukar mata uang negara di Asia.

Advertisement

Tercatat, pasar keuangan Indonesia menguat pada pekan menuju pertemuan G20 kemarin. Dalam sepekan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,68%. Selain itu, rupiah menguat 0,18% melawan dolar AS di pasar spot dan imbal hasil (yield) obligasi seri acuan tenor 10 tahun turun 4,4 basis poin.

Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa ia akan menunda pengenaan tarif tambahan impor untuk produk Tiongkok senilai US$300 miliar setelah pertemuan G20. AS juga akan kembali mengizinkan perusahaan-perusahaan AS untuk kembali berbisnis dengan Huawei Technologies Co.

(Baca: Rupiah Berbalik Melemah Setelah Menguat Nyaris 1,5% dalam Sepekan)

Selain itu, hari ini BI juga akan resmi menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Konvensional & Syariah. Keduanya turun 50bps, atau masing-masing 6,5% ke 6% dan 5% ke 4,5%.

Terkait PDB, BI sebelumnya menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia masih akan didorong oleh konsumsi serta investasi. Secara umum, sentimen positif dari pertumbuhan dunia akan berdampak pada permintaan perdagangan yang meningkat dan harga komoditas yang membaik.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait