120 Negara Sepakat Pangkas Emisi Meski Trump Meremehkan Krisis Iklim
Upaya global menekan laju pemanasan bumi mendapat dorongan baru setelah sebanyak 120 negara bersama Uni Eropa mengumumkan target pengurangan emisi gas rumah kaca di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9) lalu.
Komitmen baru ini diumumkan hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai kontroversi karena menyebut krisis iklim sebagai “tipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap dunia”.
Salah satu sorotan utama datang dari Cina, penghasil emisi karbon terbesar di dunia. Presiden Xi Jinping menyatakan negaranya akan memangkas emisi sebesar 7-10% dari level puncaknya pada tahun 2035, serta meningkatkan kapasitas energi angin dan surya hingga lebih dari enam kali lipat dibandingkan 2020.
Langkah ini mempertegas posisi Tiongkok sebagai kekuatan utama energi bersih dunia, meski di sisi lain tetap menjadi kontributor terbesar emisi global.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, yang memimpin pertemuan khusus ini menekankan dunia berada di awal era energi baru dan mendesak negara-negara untuk bergerak lebih cepat. Ia mengingatkan target global membatasi kenaikan suhu rata-rata bumi hingga 1,5°C semakin terancam gagal.
“Rencana baru kalian dapat membawa kita selangkah lebih maju. Kita berada di awal era energi baru, kita harus memanfaatkan momen ini,” kata Guterres kepada para pemimpin dunia dikutip dari The Guardian.
Meski begitu hingga saat ini, hanya sedikit negara yang menyerahkan rencana pembaruan pengurangan emisi menjelang pembicaraan COP30 pada November, yang dimaksudkan untuk memperkenalkan target baru demi menghindari gelombang panas, kekeringan, banjir, dan bencana lainnya yang semakin parah.
Saat ini, planet diperkirakan akan jauh melampaui batas pemanasan 1,5°C yang disepakati di Paris satu dekade lalu, dengan proyeksi kenaikan suhu hingga 3°C (5,4°F) di atas rata-rata pra-industri, yang dapat memicu konsekuensi bencana bagi banyak negara.
Upaya global yang terseok-seok ini makin terancam oleh tindakan Amerika Serikat, penghasil emisi karbon historis terbesar dunia. Pada Selasa (22/9), Trump menyampaikan pidato di PBB yang penuh dengan pernyataan menolak sains iklim, dan mengkritik para pemimpin karena beralih ke energi bersih.
“Negara-negara berada di ambang kehancuran karena agenda energi hijau,” kata Trump, yang menambahkan bahwa sains iklim adalah tipuan, turbin angin menyedihkan, dan menguraikan bagaimana ia mendorong negara lain seperti Inggris untuk lebih banyak mengebor minyak.
“Jika kalian tidak menjauh dari penipuan hijau ini, negara kalian akan gagal. Kalian butuh perbatasan kuat dan sumber energi tradisional jika ingin kembali berjaya. Semua prediksi yang dibuat PBB, seringkali karena alasan buruk, salah. Itu dibuat oleh orang-orang bodoh,” kata Trump.
Pernyataan Trump Menuai Kecaman dari Aktivis Lingkungan
Pernyataan itu menuai kecaman luas dari aktivis lingkungan yang menegaskan bahwa dampak krisis iklim sudah terlihat jelas di seluruh dunia.
“Siapa pun yang melihat keluar jendela tahu perubahan iklim nyata dan sedang terjadi. Pertanyaan sebenarnya adalah mengapa ada pemimpin yang begitu keras berusaha meyakinkan kita sebaliknya,” kata CEO Natural Resources Defense Council Manish Bapna.
Para pengamat menilai, meskipun 120 negara telah mengumumkan target baru, upaya ini belum cukup untuk mencegah pemanasan global melampaui 1,5°C. Saat ini, proyeksi menunjukkan suhu bumi bisa meningkat hingga 3°C dibanding era pra-industri, yang berpotensi menimbulkan bencana besar mulai dari gelombang panas, kekeringan, banjir hingga naiknya permukaan laut. Negara-negara kecil dan kepulauan, seperti Kepulauan Marshall, menilai kondisi ini sebagai ancaman eksistensial.
Perhatian kini tertuju pada konferensi iklim COP30 yang akan digelar di Belém, Brasil, pada November mendatang. Pertemuan tersebut diharapkan mampu menghasilkan rencana global yang kredibel untuk menutup kesenjangan target emisi. Namun, tantangan logistik di kota Amazon itu, termasuk keterbatasan akomodasi, dikhawatirkan mengurangi partisipasi delegasi.
Meski penuh tantangan, banyak pihak optimistis dunia masih dapat beralih ke energi bersih. Tahun lalu, investasi global untuk energi terbarukan seperti surya dan angin mencapai US$ 2 triliun, dua kali lipat dari total investasi untuk minyak, gas, dan batu bara.
