Absen di Peta Jalan Hapus Bahan Bakar Fosil, RI Ikuti Pakta Iklim Glasgow

Ajeng Dwita Ayuningtyas
3 Desember 2025, 10:46
iklim, perubahan iklim, COP30
COP30 Brasil Amazonia/Alex Ferro
Pengunjung memadati Green Zone pada penyelenggaraan Konferensi Perubahan Iklim PBB atau COP30 di Kota Belem, Brasil, pada Sabtu (15/11).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indonesia absen dalam upaya kolektif penyusunan peta jalan penghapusan bahan bakar fosil, saat ada 80 negara yang mendorong kerangka ini di COP30 Brasil. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyatakan Indonesia akan tetap mengacu pada Pakta Iklim Glasgow (Glasgow Climate Pact) 2021.

Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH, Ary Sudijanto, menyatakan Indonesia tetap mengacu pada Glasgow Climate Pact. Pakta yang dihasilkan COP26 tersebut telah menyebutkan phase down of unabated coal power dan phase out of inefficient fossil fuel subsidies atau mengurangi penggunaan energi batu bara dan subsidi bahan bakar fosil yang tidak efisien. 

“Jadi sudah sesuai dengan yang diberikan Indonesia. Indonesia meningkatkan bauran, jumlah atau daya dari energi terbarukan,” kata Ary saat Penyampaian Hasil COP30, di Jakarta, Selasa (2/12).

Ary kemudian menyinggung mahalnya transisi energi untuk negara berkembang seperti Indonesia. “Kalau kita diminta melakukan transisi, maka ada juga dukungan teknologi dan pendanaan sehingga adil pelaksanaannya,” ujarnya.

Gerakan 80 Negara untuk Hapus Penggunaan Bahan Bakar Fosil

Dalam pelaksanaan COP30 November lalu, lebih dari 80 mendorong terbentuknya Global Mutirão dengan fossil fuel phase out roadmap atau peta jalan untuk keluar dari penggunaan bahan bakar fosil.

Kolombia, Kenya, Inggris, Jerman, dan negara-negara kepulauan kecil seperti Kepulauan Marshal di Samudera Pasifik bergabung dalam gerakan ini. Namun, Indonesia justru absen dari kesepakatan ini.

Koordinator Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim (Aruki), Torry Kuswardono, juga sempat menyatakan pendapatnya mengenai ini. Menurutnya, Indonesia tertinggal dibandingkan negara kepulauan kecil, bahkan dari Kolombia yang juga masih bergantung pada energi fosil.

“Tak seperti mereka, Indonesia tidak punya proposal menyelamatkan dunia dari krisis iklim. Yang keluar dari Indonesia justru proposal menyelamatkan bisnis karbon dalam negeri yang cuma akan menguntungkan segelintir orang,” kata Torry. 

Pada akhirnya, COP30 juga berakhir tanpa komitmen baru yang eksplisit menyebutkan transisi dari bahan bakar fosil, maupun komitmen penghentian deforestasi. Titik beratnya hanya pada peningkatan pendanaan aksi iklim.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...