Pungutan SAF Singapura Berpotensi Geliatkan Industri Bioavtur Jelantah

Ajeng Dwita Ayuningtyas
Oleh Ajeng Dwita Ayuningtyas - Martha Ruth Thertina
10 Maret 2026, 13:29
Bandara Changi Singapura
changiairport/instagram
Bandara Changi Singapura
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Terbang dari Singapura bakal sedikit lebih mahal mulai tahun ini. Pemerintah Negeri Merlion berencana mengenakan pungutan tambahan bagi penerbangan dari Singapore Changi Airport. Dana dari pungutan ini akan digunakan untuk mendukung produksi dan adopsi sustainable aviation fuel (SAF) atau bahan bakar pesawat berkelanjutan seperti bioavtur dari minyak jelantah.

Kebijakan ini berlaku mulai 1 Oktober 2026 untuk tiket yang dijual setelah 1 April 2026. Besaran pungutan berkisar US$0,75 hingga US$32 per tiket. Selain itu, pungutan SAF dikenakan untuk kargo udara berdasarkan berat barang.

Bandara Changi merupakan salah satu hub penerbangan terbesar di Asia. Tahun lalu, bandara ini melayani sekitar 70 juta penumpang. Dengan skala sebesar ini, kebijakan tersebut berpotensi menjadi penggerak permintaan SAF. 

Adapun bahan bakar alternatif seperti SAF tengah menemukan momentum di tengah dorongan dekarbonisasi industri penerbangan dan ketidakpastian harga minyak dunia akibat gejolak geopolitik beberapa tahun terakhir.

 

Pasar SAF Asia Tenggara Mulai Terbentuk

Laporan ASEAN SAF 2050 Outlook menyebut Asia Tenggara memiliki potensi pasokan hingga 8,5 juta barel per hari SAF pada 2050, berkat melimpahnya bahan baku seperti minyak jelantah dan limbah pertanian. 

Sedangkan permintaan SAF diperkirakan naik dari sekitar 15.000 barel per hari pada 2030 menjadi lebih dari 700 ribu barel per hari pada 2050. Artinya, industri SAF Asia Tenggara punya kelebihan untuk menjadi pemasok global.

Sejumlah negara Asia Tenggara sudah mulai mengembangkan industri ini. Berdasarkan data ICAO, beberapa fasilitas produksi SAF telah dibangun di kawasan, terbesar di Singapura.

Singapura tercatat memiliki fasilitas produksi dengan kapasitas terbesar di kawasan. Pabrik SAF milik perusahaan energi Finlandia Neste mampu memproduksi sekitar 2,6 juta ton SAF per tahun. Beberapa proyek serupa baru saja diumumkan oleh perusahaan di bidang teknologi/infrastruktur ramah lingkungan seperti Aether dan Keppel.

Produksi dan Penggunaan SAF di Indonesia

Studi International Council on Clean Transportation (ICCT) pada 2022 memperkirakan Indonesia berpotensi mengumpulkan 715 ribu ton minyak jelantah setiap tahun. Minyak jelantah ini dapat diolah menjadi biodiesel maupun bioavtur.

Namun pengumpulannya dilaporkan masih rendah antara 20-40 persen saja. Dan, sebagian besar diekspor ke Eropa atau negara Asia lainnya, alih-alih dimanfaatkan untuk industri energi domestik. "Kurang dari 1 persen dikonversi menjadi biofuel setiap tahun," demikian tertulis.

Meski begitu, upaya-upaya pemanfaatan SAF sudah dimulai di dalam negeri. Anak usaha Pertamina, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), telah memperoleh sederet sertifikasi internasional untuk memproduksi SAF dari bahan baku minyak jelantah di Kilang Cilacap. 

Unit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT) di kilang tersebut telah mendapatkan sertifikasi ISCC CORSIA yang memungkinkan SAF produksi Indonesia diperdagangkan di pasar internasional. Merujuk data ICAO, kapasitas produksi SAF di kilang ini mencapai 240 ribu ton per tahun. 

Berdasarkan perhitungan Pertamina, emisi karbon dari bioavtur berbahan baku minyak jelantah ini 90 persen lebih sedikit dari avtur berbasis minyak bumi. Pada Agustus 2025, maskapai milik Pertamina, Pelita Air, melakukan uji coba penerbangan rute Jakarta-Bali menggunakan SAF produksi Pertamina.

Pemerintah Indonesia dilaporkan mulai menjajaki kerja sama internasional untuk pengembangan ekosistem SAF di dalam negeri. Desember tahun lalu, pemerintah Indonesia dilaporkan turut membahas soal ini dalam pertemuan dengan produsen pesawat Boeing.

Koordinator Fungsi Ketahanan Energi, Energi Baru Terbarukan, Perdagangan Karbon, dan Nilai Ekonomi Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri Danny Rahdiansyah mengatakan bahwa Boeing memberikan beberapa tawaran, seperti sertifikasi bahan baku hingga mesin, serta pengembangan standar untuk melakukan transformasi pasar.

“Termasuk mengenai kebijakan regional SAF terkait karbonisasi dan pengembangan ekosistem SAF,” kata Danny dalam diskusi, Januari lalu. 

Kementerian Perhubungan sempat mengungkapkan tengah menggodok aturan insentif untuk mendorong penggunaan SAF oleh maskapai.

SAF Opsi Realistis Dekarbonisasi Sektor Penerbangan

Sektor penerbangan tengah dalam tekanan dekarbonisasi. Menurut International Energy Agency (IEA), sektor penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen emisi karbon global, dan pertumbuhan produksi emisi pesawat disebut lebih cepat dibandingkan transportasi lain. 

Organisasi aviasi yang disokong PBB, Civil Aviation Organization (ICAO), menargetkan industri penerbangan global mencapai emisi nol bersih (net zero emission) pada 2050. Salah satu cara paling realistis untuk mencapai target tersebut adalah lewat penggunaan SAF.

Lembaga itu memperkirakan, emisi karbon SAF setidaknya bisa 65 persen lebih rendah dibandingkan avtur berbasis minyak bumi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...