Green Jobs Siap Gantikan Lapangan Kerja Batu Bara, Transisi Energi Harus Adil
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai transisi energi tidak boleh melupakan aspek kemanusiaan. CEO IESR Fabby Tumiwa menyoroti pentingnya memastikan pekerja dari sektor batu bara dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tetap memiliki masa depan dalam ekonomi hijau yang mengedepankan green jobs.
“Kita semua akan gagal dalam upaya melakukan transisi energi jika kita melupakan manusianya. Kita memang tidak boleh meminta komunitas menanggung beban ambisi iklim. Transisi yang adil adalah sebuah keharusan dan kita harus perjuangkan bersama,” ujar Fabby dalam acara Brown to Green Conference, di Jakarta, Selasa (2/12).
Menurutnya, daerah-daerah yang selama ini mengandalkan ekonomi batu bara harus mulai dipersiapkan menghadapi perubahan. Diversifikasi ekonomi menjadi langkah wajib agar masyarakat lokal bisa merasakan dampak positif transisi energi.
3–5 Pekerjaan Hijau Baru untuk Setiap Pekerjaan yang Hilang
IESR memperkirakan bahwa setiap pekerjaan yang hilang di tambang batu bara atau PLTU akan tergantikan oleh tiga hingga lima pekerjaan baru di sektor energi terbarukan (green jobs). Itu mencakup pekerjaan dalam pengoperasian dan perawatan pembangkit panas bumi, surya, angin, dan biomassa.
Pekerja yang kini bergantung pada industri fosil juga perlu pelatihan ulang atau reskilling untuk mengisi kebutuhan tenaga kerja baru di pembangkit energi bersih.
Fabby mengatakan perubahan ini bukan ancaman, melainkan peluang yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Transisi dari brown to green bukanlah sebuah beban tapi peluang ekonomi terbesar bagi Indonesia untuk tumbuh lebih tangguh dan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi 8%,” katanya.
Ia menyampaikan upaya global mencapai target iklim akan menciptakan 42 juta pekerjaan energi terbarukan pada 2050, jauh melampaui 15 juta pekerjaan fosil yang hilang. Secara keseluruhan, diperkirakan akan ada 139 juta pekerjaan baru yang muncul sebagai keuntungan bersih dari transisi energi dunia.
“Teknologinya ada, hitungan ekonominya ada, dan yang kita butuhkan adalah kemauan dan keberanian politik untuk memutuskan sesuatu yang benar,” tegasnya.
Era Batu Bara Segera Berakhir
Fabby juga mengingatkan pemimpin sektor energi untuk mulai bersiap menghadapi perubahan besar ini. Keputusan pemerintah dalam lima tahun mendatang akan menjadi penentu apakah Indonesia akan memimpin transisi energi atau justru tertinggal.
“Era batu bara akan segera berakhir dan posisikan diri kita dan ekonomi kita untuk menyambut masa depan atau Indonesia akan semakin tertinggal,” ucapnya.
Dengan potensi energi terbarukan yang melimpah terutama panas bumi, angin, surya, dan biomassa, Fabby menyatakan, sektor energi bersih siap menggantikan PLTU batu bara.
“Pertanyaannya bukan lagi apakah kita bisa, tetapi maukah kita berubah dengan cepat. Saya percaya jika bersama-sama kita mampu mewujudkan ini,” ujarnya.
