Berkat Kendaraan Listrik, Dunia Hemat 2,3 Juta Barel Minyak per Hari di 2025

Ajeng Dwita Ayuningtyas
30 Maret 2026, 20:22
Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listriknya di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta, Kamis (9/10/2025).
ANTARA FOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/bay/bar
Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listriknya di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU), SPBU Pertamina, Jalan MT Haryono, Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Adopsi kendaraan listrik menghemat 2,3 juta barel minyak per hari pada 2025. Pada 2030, penghematannya diproyeksikan naik lebih dari dua kali lipat menjadi 5,25 juta barel minyak per hari. Angka-angka itu berdasarkan skenario pemodelan yang dilakukan BloombergNEF.

Analis minyak BloombergNEF Claudio Lubis mengatakan, akan semakin banyak masyarakat yang beralih ke kendaraan bertenaga baterai hingga akhir dekade ini. Sebab itu, penghematan bahan bakar fosil juga diperkirakan akan lebih banyak.

Saat ini, berdasarkan perhitungan BloombergNEF, kendaraan roda dua dan roda tiga menyumbang penghematan bahan bakar fosil paling besar. Maraknya pemanfaatan sepeda motor listrik menjadi pemicunya, terutama di negara berkembang. 

Angka penghematan minyak di 2025 terutama karena adopsi motor listrik. Kendaraan roda dua dan roda tiga menghemat sekitar 1,14 juta barel minyak per hari; disusul kendaraan pribadi (roda empat) 926,8 ribu barel per hari; bus 229,8 ribu barel per hari; angkutan umum 217,9 ribu barel per hari; dan truk komersial 194,2 ribu barel per hari. 

Pada 2030, penghematan terbesar bakal berasal dari kendaraan pribadi (roda empat) dengan estimasi mencapai 2,09 juta barel minyak per hari; kemudian kendaraan roda dua dan roda tiga 1,35 juta barel per hari; angkutan umum 775,1 ribu barel per hari; truk komersial 721,7 ribu barel per hari; serta bus 315,7 ribu barel per hari. 

Beberapa kebijakan berpotensi menahan laju penjualan kendaraan listrik global tahun ini. Di antaranya kebijakan penghapusan subsidi terkait kendaraan listrik di Cina dan perubahan/pelonggaran kebijakan penghentian penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) pada 2035 di Eropa. Namun, melonjaknya harga bahan bakar akibat perang di Timur Tengah seperti membalikkan keadaan.

Analis di lembaga think tank bidang energi EMBER Daan Walter mengatakan, kendaraan listrik semakin kompetitif dari segi biaya dibandingkan mobil bertenaga bensin. “Volatilitas harga minyak menandakan kendaraan listrik sebagai pilihan yang masuk akal bagi negara yang ingin melindungi diri dari guncangan masa depan,” kata Walter, dikutip dari Bloomberg.

Berdasarkan analisis EMBER, negara-negara di Asia termasuk yang paling cepat mengadopsi kendaraan listrik. Pada 2025, Cina mencatatkan 50 persen penjualan mobil berjenis mobil listrik (baterai maupun hibrida plug in) untuk pertama kalinya, sedangkan di Vietnam persentasenya mencapai 38 persen dan Thailand 21 persen.

Berdasarkan perhitungan EMBER, pengehematan minyak karena adopsi kendaraan listrik mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari pada 2025, lebih rendah dari estimasi BloombergNEF. Perbedaan ini karena EMBER juga menghitung penggunaan BBM oleh mobil listrik jenis hibrida plug-in.

Bila rata-rata harga minyak US$80 per barel, EMBER memperkirakan Cina bisa menghemat lebih dari US$28 miliar per tahun karena adopsi kendaraan listrik. Sedangkan Eropa US$8 miliar per tahun dan India US$600 juta per tahun. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...