PSEL Jatibarang Tarik Puluhan Investor Global, Ini Persiapan Semarang
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti megungkapkan tingginya minat investor global dalam lelang proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Jatibarang. Fasilitas yang berlokasi di TPA Jatibarang, Kelurahan Kedungpane, Kecamatan Mijen, tersebut dirancang melayani Kota Semarang dan Kabupaten Kendal.
Dia mengatakan, sebanyak 85 investor global menunjukkan ketertarikan terhadap proyek yang diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp3 triliun tersebut. ”Menurut saya secara pribadi banyak sekali investor yang tertarik karena komitmen kami untuk mensukseskan PSEL ini sangat tinggi,” kata dia dalam acara Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2026 di Jakarta Selatan, Rabu (16/9).
Fasilitas PSEL tersebut direncanakan memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah per hari. Sampah tersebut akan diolah untuk menghasilkan listrik dengan kapasitas pembangkit sekitar 19,3 megawatt atau 18,6 megawatt, tergantung skema proyek.
Menurut Agustina, pihaknya telah menyiapkan berbagai hal dari mulai penyediaan lahan, akses menuju lokasi, kebutuhan air, hingga kepastian pasokan sampah sebagai bahan baku PSEL.
Pemkot Semarang menyiapkan anggaran untuk pematangan lahan dan pembangunan akses menuju lokasi proyek. Sedangkan kebutuhan air akan dipenuhi oleh sumber air yang berada sekitar satu kilometer dari lokasi proyek.
Dari sisi bahan baku, kebutuhan PSEL diperkirakan mencapai 1.000 ton sampah per hari. Kota Semarang akan memasok sekitar 940 ton per hari, sedangkan Kabupaten Kendal diharapkan memasok sekitar 100 ton sampah per hari.
Agustina mengatakan pengembangan PSEL Semarang sebetulnya telah berlangsung sejak terbitnya Perpres Nomor 35 Tahun 2018, namun kemudian menghadapi beberapa kendala administrasi serta perubahan regulasi.
Selain memastikan pasokan, Pemkot Semarang masih berupaya mengangkut sampah yang dibuang sembarangan ke tempat pembuangan akhir (TPA). Upaya tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2026 agar pasokan sampah untuk PSEL tetap terjaga saat fasilitas mulai beroperasi pada akhir 2028.
Program Pengelolaan Sampah Selain PSEL: Pemilahan, Pemantauan AI, hingga Pirolisis
Pembangunan PSEL bukan satu-satunya upaya untuk menangani persoalan sampah di Semarang. Agustina menjelaskan, pengelolaan sampah perlu dilakukan sejak dari sumbernya, termasuk dengan mengubah kebiasaan masyarakat dalam membuang dan memilah sampah.
Pemkot Semarang telah mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari rumah. Program tersebut dilakukan melalui sekolah Adiwiyata, bank sampah, hingga kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
”Maka Kota Semarang membuat, Semarang wegah nyampah, pilah sampah dari diri sendiri, dari rumah,” kata dia.
Program pemilahan sampah telah memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat. Agustina menyebut kegiatan pengumpulan sampah melalui PKK telah menghasilkan sekitar Rp500 juta.
Dia memastikan, pengurangan sampah dari rumah tidak akan mengganggu pasokan bahan baku PSEL. Sebab, produksi sampah di Semarang diperkirakan tetap meningkat seiring dengan aktivitas perdagangan dan jasa.
”Kebutuhannya hanya 1.000 ton per hari. Maka pasokannya tidak ada masalah,” ujarnya. Saat ini, Kota Semarang menghasilkan sekitar 1.666 ton sampah per hari. Dari jumlah tersebut, lebih dari 900 ton diangkut ke TPA.
Pemkot Semarang juga akan memasang kamera berbasis kecerdasan buatan (AI) di sejumlah lokasi yang sering menjadi tempat pembuangan sampah liar. Kamera tersebut diharapkan membantu mengurangi pembuangan sampah sembarangan.
Saat ini, timbulan sampah di TPA Jatibarang dilaporkan mencapai 3,7 juta ton. Selain PSEL, Pemkot Semarang menyiapkan pengolahan timbunan tersebut menjadi energi menggunakan teknologi pirolisis.
