BRIN Lihat Peluang Interoperabilitas SPKLU Lewat Teknologi Ini
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melihat peluang pengguna kendaraan listrik semakin mudah mengakses stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) dari berbagai operator melalui konsep Electric Vehicle (EV) Roaming.
Ketua Kelompok Riset Kartu Cerdas dan Mobilitas Berbasis Elektronika, Pusat Riset Elektronika BRIN, Dwidharma Priyasta Tasurun menjelaskan interoperabilitas antaroperator telah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 1 Tahun 2023.
“EV Roaming memungkinkan pengguna kendaraan listrik mengakses SPKLU dari berbagai operator tanpa harus melakukan registrasi secara terpisah pada setiap operator,” kata Dwidharma, dikutip dari situs BRIN, Kamis (29/9).
Dwidharma menjelaskan salah satu teknologi yang dapat mendukung konektivitas antaroperator adalah Open Charge Point Protocol (OCPP). Protokol ini memungkinkan perangkat pengisian kendaraan listrik atau charge point berkomunikasi dengan sistem pusat pengelola layanan.
Salah satu versi OCPP yang dapat digunakan adalah OCPP 1.6. Protokol tersebut memiliki fitur DataTransfer yang memungkinkan pertukaran informasi tambahan antara perangkat pengisian dan sistem pusat.
Menurut Dwidharma, fitur tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mengembangkan mekanisme EV roaming.
“Dengan memanfaatkan DataTransfer, terdapat potensi untuk mengembangkan mekanisme EV Roaming berbasis OCPP 1.6,” ujarnya.
Pengembangan mekanisme tersebut dapat diuji menggunakan perangkat lunak dan simulator OCPP. Menurut Dwidharma, perangkat tersebut dapat digunakan untuk menguji komunikasi antara sistem SPKLU dari berbagai operator sebelum diterapkan lebih luas.
Pengujian tersebut diperlukan untuk melihat bagaimana sistem pengisian kendaraan listrik dari berbagai operator dapat saling berkomunikasi. Integrasi ini diharapkan membuat layanan SPKLU lebih mudah diakses pengguna kendaraan listrik.
Kepala Pusat Riset Elektronika BRIN Yusuf Nur Wijayanto mengatakan pengembangan mobilitas kendaraan listrik membutuhkan lebih dari sekadar perangkat keras. "Tetapi juga data yang berkualitas, sistem komunikasi antarsandar dan pemanfaatan teknologi digital secara integrasi,” kata dia.
