Stok Kilang AS Bertambah, Harga Minyak Kembali Melemah

Stok minyak Amerika Serikat meningkat 4,3 juta barel menjadi 440,5 juta barel yang berdampak pada pelemahan harga minyak.
Image title
Oleh Febrina Ratna Iskana
6 November 2019, 09:16
harga minyak, amerika serikat
Katadata | Dok.
Ilustrasi, kilang minyak. Stok minyak Amerika Serikat bertambah pada awal November yang menyebabkan harga minyak melemah.

Harga minyak jatuh pada perdagangan Rabu (6/11) setelah data industri menunjukkan penambahan cadangan minyak Amerika Serikat (AS). Namun, perundingan dagang antara AS dan Tiongkok mampu menahan lajut penurunan harga minyak.

Reuters mencatat harga minyak Brent untuk perdagangan berjangka turun 0,4% menjadi US$ 62,73 per barel. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, harga minyak Brent naik 1,3% di level harga US$ 62,96 per barel.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan berjangka hari ini turun 0,4% menjadi US$ 57,05 per barel. Pada penutupan sesi perdagangan kemarin, harga minyak WTI naik 1,2% atau senilai US$ 57,23 per barel.

Berdasarkan data American Petroleum Institute (API), stok minyak AS naik 4,3 juta barel pada 1 November 2019 menjadi 440,5 juta barel. Angka itu lebih tinggi 1,5 juta dari perkraan analis.

(Baca: Pemangkasan Produksi OPEC Diragukan, Harga Minyak Turun Jadi US$ 62)

Biarpun begitu, harapan perjanjian dagang antara AS dan Tiongkok, dua negara konsumen minyak terbesar, menahan kejatuhan harga minyak. Tiongkok mendorong Presiden AS Donald Trump untuk menurunkan tarif sebagai perjanjian dagang fase pertama.

"Investor akan terus memantau perundingan antara AS-Tiongkok," kata ANZ Research seperti dilansir dari Reuters, Rabu (6/11).

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo memproyeksi pasar minyak tahun depan bakal meningkat. Namun, untuk lima tahun ke depan, suplai minyak OPEC bakal berkurang menyusul peningkatan suplai gas shale AS dan sumber energi lainnya.

OPEC dan mitranya, Rusia, sepakat memangkas produksi minyak sebesar 1,2 juta barel per hari sampai Maret 2020. OPEC dan negara sekutunya pun akan mengadakan pertemuan pada Desember untuk mengkaji kembali kebijakan tersebut.

(Baca: Optimisme AS-Tiongkok Dorong Penguatan Dolar AS, Rupiah Melemah)

Video Pilihan

Artikel Terkait