PLN Rampungkan GITET Wotu 250 MVA, Dukung Industri Smelter di Sulawesi

GITET berkapasitas 250 MVA ini akan menambah keandalan pasokan listrik PLN di Sulawesi, salah satunya untuk mendukung industri smelter.
Image title
8 Oktober 2021, 13:32
pln, listrik, smelter
ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/aww.
Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (Gitet).

PLN telah merampungkan penambahan kapasitas dan pemberian tegangan perdana Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET) Wotu sebesar 250 Mega Volt Ampere (MVA) di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Dengan begitu, GITET Wotu menjadi GITET terbesar di Indonesia Bagian Timur.

Sebelumnya, GITET Wotu Extension (Ext) 275/150 kV memiliki kapasitas IBT sebesar 90 MVA. General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi, Defiar Anis mengatakan peningkatan kapasitas ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan daya listrik di Sulawesi.

"Dengan energize-nya GITET Wotu ini akan membuat pasokan listrik semakin andal. Ini akan membuka peluang lebih besar untuk pertumbuhan investasi dan ekonomi," kata Anis dalam keterangan tertulis, Jumat (8/10).

Kebutuhan listrik di Sulawesi diprediksi akan terus meningkat seiring pertumbuhan industri di wilayah tersebut, khususnya untuk industri smelter. Kebutuhan listrik untuk fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral atau smelter di Sulawesi diproyeksikan lebih dari 6.000 MVA.

Sebelumnya, PLN juga telah menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik sebesar 738 MVA dengan beberapa perusahaan. Di antaranya Arafura Surya Alam di Sulawesi Utara, PT Banyan Tumbuh Lestari di Gorontalo, serta PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, PT Ceria Nugraha Indotama, PT Bintang Smelter Indonesia dan PT Macika Mineral Industri di Sulawesi Tenggara.

Dalam mengerjakan proyek ini, PLN mengklaim telah mengedepankan penggunaan komponen dalam negeri, dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 44%. Angka tersebut lebih besar dari persentase yang ditetapkan oleh Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 54 Tahun 2021.

Permen tersebut menyebutkan secara rinci persentase minimum TKDN yang harus dipenuhi dalam setiap jenis proyek infrastruktur ketenagalistrikan tergantung kapasitasnya, baik untuk pembangkit, gardu induk, maupun transmisi.

"Penggunaan TKDN di berbagai proyek kelistrikan, terutama dalam masa pandemi Covid-19, diharapkan dapat memacu perekonomian nasional," kata Anis. Simak databoks berikut:

Adapun PLN memproyeksikan permintaan listrik tahun ini tumbuh sekitar 4,5%. Namun untuk mencapai tingkat pertumbuhan tersebut vaksinasi harus terus ditingkatkan sehingga dapat menekan angka kasus Covid-19 baru, sehingga roda perekonomian dapat berputar lebih kencang,

Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN, Bob Saril mengatakan konsumsi listrik mulai menunjukkan tanda-tanda positif. Hal tersebut tercermin dari data hingga Agustus yang mulai tumbuh 4,5%.

Menurut dia pertumbuhan positif tersebut ditopang oleh industri yang mulai tumbuh secara bulanan terhadap bulan lalu sebesar 14,14%. Adapun sampai dengan Agustus 2021 sektor industri tumbuh 10,51%.

"Dengan semakin menurunnya kasus covid-19 dan vaksinasi secara masif kami tetap optimis penjualan akan tumbuh di atas 4,5%," kata Bob kepada Katadata.co.id, Kamis (9/9).

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait