Harga BBM Tetap Meski Harga Minyak Naik, Bagaimana Keuangan Pertamina?

Terus naiknya harga minyak mentah akan membuat biaya produksi BBM meningkat dan menekan profitabilitas, sebab hingga kini Pertamina belum menyesuaikan harga BBM.
Image title
12 November 2021, 12:49
harga bbm, pertamina, harga minyak
ANTARA FOTO/Fauzan/foc.
Petugas SPBU menggunakan alat pelindung wajah di SPBU kawasan Kebon Nanas, Kota Tangerang, Banten, Minggu (17/5/2020).

Pertamina hingga kini tak kunjung menyesuaikan harga BBM. Padahal, harga minyak mentah Indonesia atau ICP pada Oktober 2021 telah naik US$ 9,60 menjadi US$ 81,80 per barel.

Pertamina sempat menyatakan bahwa kenaikan harga BBM akan memukul daya beli masyarakat. Namu semakin tingginya harga minyak akan membuat biaya produksi BBM meningkat dan pada akhirnya menekan profitabilitas perusahaan.

"Kami masih terus berkoordinasi dengan pemerintah," kata Pjs Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga-Sub Holding Commercial & Trading, Irto Ginting kepada Katadata.co.id, Jumat (12/11).

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menilai kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada sektor hilir Pertamina. Mengingat sampai saat ini mereka masih harus menanggung kerugian yang cukup signifikan untuk BBM umum jenis Pertalite dan Pertamax.

Oleh sebab itu, ia mendorong pemerintah memberikan keleluasaan bagi Pertamina untuk melakukan penyesuaian harga BBM umum. Jika pun tidak sampai ke nilai keekonomian, paling tidak dapat menyentuh 50%. "Kemarin saya mengusulkan untuk di angka Rp 1.500 per liter untuk Pertalite dan Pertamax sebagai jalan tengahnya," katanya.

Mamit khawatir jika dibiarkan maka keuangan perusahaan migas pelat merah ini akan terus tertekan. Meskipun, di sektor hulu mereka masih mendapatkan keuntungan di tengah harga minyak yang sedang bagus ini.

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi memproyeksikan hingga akhir tahun ini harga minyak dunia masih cenderung tinggi. Angkanya diperkirakan mencapai di atas US$ 80-an per barel.

Dia menyadari selama tidak menaikkan harga BBM, Pertamina akan mengalami kerugian karena menjual BBM dengan harga di bawah keekonomian. Hal ini pun membuat keuangan Pertamina menjadi tidak sehat. "Namun, kenaikan harga BBM di tengah pandemi juga tidak sehat bagi konsumen, yang juga terpuruk karena pandemi," ujarnya.

Oleh karena itu, untuk menutup kerugian, Fahmy menyarankan supaya Pertamina dapat menggunakan margin yang diperoleh di saat harga minyak dunia turun beberapa waktu lalu. Mengingat ketika minyak dunia anjlok, Pertamina juga tak menurunkan harga BBM.

"Pada saat itu, Pertamina meraup margin dalam jumlah sangat besar. Margin inilah yang harus digunakan untuk menutup kerugian akibat kenaikan harga minyak dunia," katanya.

Seperti diketahui, harga jual BBM Pertamina dengan pesaingnya telah terpaut jauh. Seperti Shell Indonesia yang telah menaikkan harga produk BBM. Di wilayah Jakarta misalnya, harga BBM untuk jenis Shell Super (RON 92) telah dipatok di level Rp 12.860 per liter.

Harga jual Shell lebih mahal Rp 3.860 per liter dibandingkan dengan harga BBM yang dipatok Pertamina di wilayah yang sama. Untuk BBM jenis Pertamax (RON 92) Pertamina masih menjual di level Rp 9.000 per liter.

Bahkan harga produk BBM Shell Super (RON 92) milik Shell lebih mahal ketimbang harga produk BBM Pertamax Turbo yang memiliki nilai oktan 98. Pertamina masih menjual produk BBM Pertamax Turbo di level Rp 12.300 per liter.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait