Harga Bitcoin Turun di Bawah US$ 30.000, Terendah Dalam 10 Bulan

Bitcoin harus bertahan di level US$ 33.000 agar tidak merosot lebih dalam.
Image title
10 Mei 2022, 09:25
harga bitcoin, mata uang kripto, bitcoin, kripto
ANTARA FOTO/REUTERS/Jose Cabezas
Tanda Bitcoin ditampilkan di luar toko tempat cryptocurrency diterima sebagai metode pembayaran di San Salvador, El Salvador, Selasa (1/2/2022).

Harga bitcoin turun di bawah level US$ 30.000 atau sekitar Rp 436 juta pada Senin (9/5) atau Selasa pagi waktu Indonesia, menyentuh level terendahnya dalam 10 bulan terakhir, dan turun lebih dari 56% dari level tertinggi sepanjang masa pada November 2021 di sekitar US$ 69.000.

Terakhir kali bitcoin diperdagangkan di bawah harga psikologis US$ 30.000 adalah pada Juli 2021 di level US$ 29.839,80. Analis menyebut dengan turun di bawah level psikologis tersebut, harga mata uang kripto ini diprediksi akan terus merosot.

“Bitcoin harus mempertahankan level harga psikologis di level US$ 33.000 untuk mencegah penurunan harga lebih lanjut dari sentimen teknis,” kata analis pasar kripto di pertukaran Bitcoin Jepang, Bitbank, Yuya Hasegawa seperti dikutip CNBC.com pada Selasa (10/5).

Penurunan harga ini terjadi imbas aksi jual yang berlangsung pada beberapa hari terkahir. Menurut data CoinMarketCap, pasar kripto, yang diperdagangkan nonstop, turun hampir 10% dalam 24 jam terakhir.

Advertisement

Selama setahun terakhir pergerakan harga bitcoin dan mata uang kripto utama lainnya mengikuti pergerakan harga saham teknologi dalam indeks Nasdaq. Beberapa analis mengatakan bahwa korelasi erat antara bitcoin dan Nasdaq ini menantang argumen bahwa mata uang kripto berfungsi sebagai lindung nilai inflasi.

Harga bitcoin anjlok 13,04% dalam sepekan hingga ke bawah US$ 35 ribu atau Rp 507 juta. Penyebab utamanya adalah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga. Simak databoks berikut:

Analis sekaligus chief executive di Factor Peter Brandt menyampaikan, kenaikan suku bunga The Fed membuat imbal hasil obligasi melonjak dan membuat investasi spekulatif seperti bitcoin terlihat kurang menarik. Ia memperkirakan harga bitcoin terus melorot.

“Sekarang US$ 28 ribu diterima secara luas sebagai prediksi penurunan. Saya terpaksa mengubah pandangan saya. Entah harga bertahan di atas US$ 30 ribu atau melewati US$ 28 ribu,” kata Peter melalui akun Twitter @PeterLBrandt, Senin (9/5).

Berdasarkan data Coindesk, harga bitcoin turun 2% dalam 24 jam menjadi US$ 33.860 atau Rp 491 juta per koin pada perdagangan hari ini (9/5). Harganya anjlok 13% dalam seminggu dan 20,44% sebulan.

Harga bitcoin pekan lalu di level US$ 39.834 atau Rp 577 juta per koin. Bulan lalu harganya di atas US$ 40 ribu atau Rp 580 juta per koin. Menurutnya, penurunan harga bitcoin lebih dalam akan terjadi pada jangka pendek. Penurunannya lebih lanjut bisa mencapai 18% dari posisi saat ini.

Brandt memperkirakan penurunan tajam harga bitcoin akan terjadi seperti 2017. Ketika itu harganya jatuh lebih dari 80% setelah mencapai rekor harga tertingginya. Pada Desember 2017, harga bitcoin menyentuh rekor US$ 19.829 per koin. Awal 2018 harganya terus merosot hingga di bawah US$ 4.000.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait