Energi Panas Bumi Terancam Makin Murahnya Teknologi Surya dan Angin

Pengembangan energi panas bumi yang mahal berpotensi semakin tertinggal seiring makin murahnya teknologi pembangkit EBT lainnya seperti surya dan angin.
Image title
6 Oktober 2021, 19:22
panas bumi, pembangkit listrik, ebt, energi baru terbarukan
ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Sejumlah pekerja beraktivitas di area instalasi sumur Geothermal atau panas bumi milik PT Geo Dipa Energi kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (10/10/2018).

Upaya pemerintah menggenjot penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030 sebesar 3.355 megawatt (MW) dinilai cukup berat. Pasalnya kapasitas terpasang saat ini baru mencapai 2.175 MW.

Direktur Utama Geo Dipa Riki Ibrahim menilai target tersebut merupakan pekerjaan rumah yang cukup serius untuk diselesaikan. Untuk itu, dia mengajak para seluruh pengembang panas bumi dan asosiasi berfikir kreatif dalam mencapai target tersebut sebelum terlambat.

Mengingat, pengembangan dari teknologi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) lainnya saat ini semakin pesat. Seperti teknologi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin yang telah membuat harga listriknya makin murah. Indonesia juga memiliki visi 2045 yakni meningkatkan ketahanan energi dengan EBT.

"Kalau tidak sekarang kembangkan panas bumi, kita akan terlambat, sudah pasti akan terlambat, itu semua yang namanya energi surya dan angin teknologi semakin murah, kita tidak ada pilihan masyarakat gak mau dibebankan listrik yang mahal," ujarnya dalam diskusi secara virtual, Rabu (6/10).

Direktur Utama PT Medco Power Indonesia, Eka Satria menilai Indonesia memiliki potensi panas bumi yang cukup besar yakni mencapai 23,9 gigawatt. Namun realisasi pemanfaatannya hingga kini masih rendah dan pengembangannya lamban. Simak besar potensi panas bumi Indonesia pada databoks berikut:

Bahkan dari tahun 2000 hingga 2014 tambahan kapasitas terpasang dari PLTP hanya sebesar 176 MW. Untuk itu, pemerintah perlu menyelesaikan tiga isu utama, yakni kebijakan, teknologi dan beyond electricity. Dengan terjawab ketiga isu tersebut, panas bumi diharapkan bisa menjadi backbone energy ke depannya.

"Sudah banyak diskusi yang kita lakukan dan saya sepakat bahwa dalam memastikan isu isu ini dapat diselesaikan semua stakeholder harus terlibat," ujarnya.

Presiden Direktur Pertamina Geothermal Energy, Ahmad Yuniarto berharap panas bumi mempunyai peran strategis dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia. Mengingat rangkaian potensi panas bumi dari wilayah Aceh ke Indonesia Timur terbentang luas.

"Ini seolah-olah seperti backbone, menjadi tulang belakang yaitu pada saat panas bumi menjadi listrik renewable yang di sebagian green base tentunya juga ketahanan energi ini dicapai," katanya.

Menurut dia, eksplorasi yang telah dilakukan PGE tidak hanya berupa pengeboran panas bumi saja. Namun perusahaan juga mengeksplorasi apa saja kandungan manfaat yang kemudian dapat direalisasikan untuk menambah rantai nilai panas bumi.

"Ada beberapa hal yang sudah kami lakukan dalam riset, seperti bagaimana menggunakan panas bumi untuk menghasilkan green hidrogen," katanya.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait