Pertamina Gandeng Chevron hingga Mitsubishi Kembangkan Hidrogen Hijau

Pertamina menjajaki kerja sama dengan total lima perusahaan untuk pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau. Beberapa di antaranya seperti Chevron dan Mitsubishi.
Muhamad Fajar Riyandanu
8 November 2022, 17:01
hidrogen hijau, pertamina,
123rf.com/Alexander Kirch
Ilustrasi bahan bakar hidrogen.

Pertamina tengah menjajaki pembentukan konsorsium dengan beberapa perusahaan asing untuk pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau yang diperoleh dari sumber wilayah kerja panas bumi (WKP) di daerah Sumatera.

Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Power Indonesia (PPI), Fadli Rahman, mengatakan perseroan tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan migas asal Amerika Serikat, Chevron dan perusahaan energi asal Singapura, Keppel Corporation.

"Pertamina sudah mulai diskusi dari akhir tahun lalu, jadi tahun ini sudah mulai kami kongkritkan untuk studi-studinya," kata Fadli saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN pada Selasa (8/11).

Selain itu, Pertamina juga telah menyepakati studi bersama atau joint study pengembangan hidrogen hijau dan hidrogen biru bersama Krakatau Steel dan IGNIS Energy Holdings.

Advertisement

Keseriusan Pertamina pada pengembangan hydrogen dan amonia kembali dipertegas melalui penandatanganan studi bersama dengan IGNIS Energy Holdings dan Sembcorp Energy Indonesia untuk produksi hidrogen.

Lebih dari itu, sebelumnya Pertamina telah menyepakati kesepakatan studi bersama untuk pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau dengan Tokyo Electric Power Company (TEPCO). Mitsubishi Corporation, juga disebut telah menjalin kerja sama dengan Pertamia soal pengembangan hidrogen dan amonia.

"Total ada kerja sama dengan lima perusahaan, dekat-dekat ini akan masuk ke tahap studi kelayakan dengan Chevron dan Keppel," ujar Fadli.

Dengan adanya beberapa proyek kerja sama ini, Pertamina berharap bisa menyuplai kebutuhan 2 juta ton hidrogen hijau dan amonia hijau pada 2030. Kendati demikian, Fadli pun belum mengetahui berapa besaran nilai investasi yang dikeluarkan oleh tiap-tiap perusahaan.

"Investasinya belum ada yang tahu, karena ini memang betul-betul masih di tahap awal, jadi masih perlu lihat potensinya sebesar apa. Tapi intinya, Pertamina ingin suplai kontribusi 2 juta ton di tahun 2030," imbuh Fadli.

Sebelumnya diberitakan, Pertamina berupaya untuk menyesuaikan produk bisnis mereka sehubungan dengan meningkatkanya tren transisi energi global. Simak daftar negara dengan investasi pengembangan hidrogen terbesar di dunia pada databoks berikut:

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan Pertamina akan beralih dari perusahaan minyak dan gas (migas) menjadi perusahaan yang menjual produk energi baru terbarukan (EBT).

Nicke mengatakan, saat ini Pertamina melalui Pertamina Geothermal Energy (PGE) mulai memproduksi hidrogen hijau dari aset panas bumi yang mereka olah di sejumlah kilang yang mereka miliki.

"Kami mentransformasikan perusahaan minyak dan gas menuju energi baru dan terbarukan dan kami memiliki rencana untuk menghasilkan hidrogen hijau dari elektrolisis, baik dari surya atau air," kata Nicke dalam paparannya di Side Event G20: Sustainable Finance for Climate Transition Roundtable pada Kamis (14/7).

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait