Astra, Telkom, dan Djarum Kecipratan Untung dari Kenaikan Valuasi GoTo

Dengan valuasi saham GoTo yang terus melesat, nilai investasi ketiga investor ditaksir sudah naik puluhan persen.
Image title
27 Oktober 2021, 18:53
GoTo, Astra, Saham
GoTo
Gojek merger dengan Tokopedia menjadi GoTo

Grup GoTo diketahui memperoleh suntikan dana US$ 400 juta dari investor baru Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dalam aksi penggalangan dana pra-IPO pekan lalu. Hal ini dinilai membuat sejumlah investor lama GoTo kecipratan untung, baik Astra International, Telkom Indonesia, maupun Grup Djarum.

Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan suntikan modal dari ADIA membuat valuasi GoTo diasumsikan mencapai Rp 500 triliun. Proyeksi ini tak jauh berbeda dari laporan Reuters yang menyebutkan valuasi GoTo bisa mencapai US$ 32 miliar atau sekitar Rp 450 triliun.

"Masuknya dana dari investor tersebut akan bagus dan asumsinya valuasi diperkirakan mencapai Rp 500 triliun. Bisa menjadi nomor dua setelah Bank Central Asia dan bisa menjadi penggerak pasar saham," kata Wawan dalam siaran pers, Rabu (27/10).

Wawan mengatakan investor lama GoTo diperkirakan mendapat keuntungan besar berkat kenaikan valuasi tersebut. Investor lokal diketahui memiliki saham GoTo seperti Astra International, Telkom Indonesia melalui anak usahanya Telkomsel, dan Grup Djarum melalui entitas anak Global Digital Niaga.

"Astra, Telkomsel, dan Djarum telah berinvestasi ketika valuasi perusahaan itu masih rendah," kata Wawan.

Astra berinvestasi sebesar US$ 250 juta pada 2018 dengan menanamkan dananya saat valuasi Gojek berkisar US$ 3,5 miliar - US$ 4 miliar. Grup Djarum pada saat yang sama melakukan investasi dengan nilai US$ 100 juta - US$ 120 juta dengan valuasi yang hampir serupa.

Telkomsel masuk ke Gojek secara bertahap sejak 2020. Tahap pertama, anak usaha Telkom ini menanamkan investasi US$ 150 juta. Tahap kedua pada 2021 penyertaan Telkomsel di Gojek bertambah hingga total menjadi US$ 450 juta. Ketika Telkomsel masuk, nilai valuasi Gojek diperkirakan sudah di atas US$ 10 miliar.

Setelah terbentuknya GoTo Group, persentase kepemilikan tiga konglomerasi bisnis di Indonesia itu berkurang. "Namun, dengan terus melesatnya valuasi saham GoTo, nilai investasi ketiga entitas tadi ditaksir sudah naik puluhan persen," kata Wawan.

Dengan asumsi valuasi GoTo saat ini yang mencapai US$ 30 miliar, maka perkiraan internal rate of return (IRR) yang telah diraup oleh Telkomsel setelah hampir setahun masuk adalah sebesar 6,97% secara bulanan atau setara dengan 83,66% per tahun.

Sementara itu, valuasi Astra Internasional diperkirakan naik sebesar 32% per tahun dan Djarum meraup 43% per tahun. "Sehingga, investor institusi domestik sudah diuntungkan dengan masuknya dana pra-IPO," kata Wawan.

Wawan mengatakan kepemilikan saham investor GoTo berpotensi berubah sejalan dengan proses pra-IPO yang bisa menambah jumlah investor baru. Ia melihat saham ekonomi digital, khususnya GoTo, akan menarik karena bergabungnya Gojek dan Tokopedia.

"Ini akan dipandang sebagai sesuatu yang prospeknya sangat besar sekali. Jadi saya rasa investor akan langsung profit,” kata Wawan.

Sebelumnya, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan menilai masuknya investor baru pada pra-IPO membuat valuasi bisnis Grup GoTo diperkirakan mencapai US$ 30 miliar atau Rp 424,01 triliun sebelum proses penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada awal tahun depan.

"Apalagi jika dana hasil pra-IPO semakin besar, tentu akan sangat menguntungkan GoTo dalam proses IPO nanti," kata Alfred.

Dalam penggalangan dana pra-IPO, GoTo dikabarkan membidik jumlah investasi US$ 1,5 miliar sampai US$ 2 miliar atau sekitar Rp 21,19 triliun sampai Rp 28,26 triliun. Masuknya dana segar sebelum IPO ini akan menjadikan GoTo sebagai emiten dengan nilai IPO terbesar di pasar modal Indonesia.

Co-Founder sekaligus Managing Partner di Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani mengatakan upaya GoTo menggaet pendanaan sebelum IPO merupakan bagian dari proses book building. Proses tersebut merupakan penawaran awal yang akan menjadi dasar penentuan nilai IPO.

GoTo masih akan mengevaluasi apakah pendanaan baru sesuai dengan target valuasi mereka. Apabila pendanaan dari ADIA belum mampu memenuhi target, maka akan ada pendanaan lanjutan. "Harus ditambahkan lagi dari investor lain," kata Edward kepada Katadata.co.id, Kamis (21/10).

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait