Bukan Korupsi, Hasil Survei Ungkap Ekonomi Masalah Utama RI Saat Ini

Hasil survei menunjukan mayoritas responden berpendapat kondisi ekonomi nasional dalam setahun terakhir makin memburuk.
Image title
15 November 2021, 15:59
survei, ekonomi, korupsi
ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/hp.
Petugas menarik retribusi pasar yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Imbanagara, Desa Imbanagara Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Senin (15/11/2021). Pemerintah Provinsi Jabar terus mengupayakan kemajuan desa untuk meningkatkan aktivitas perekonomian masyarakat di desa. Ekonomi menjadi ius utama nasional menurut survei DTS.

Lembaga Survei Development Technology Strategy (DTS) menerbitkan hasil survei persepsi kinerja pemerintah. Hasilnya, responden menilai masalah utama nasional saat ini adalah terkait ekonomi.

Secara rinci, persepsi tentang pesoalan inflasi dan pengangguran mencapai 29,97% serta kemiskinan dan ketimpangan 18,76%.

Di bawah ekonomi,  ssurvei persepsi kinerja pemerintah memperlihatkan persoalan terkait korupsi sebagai masalah utama nasional kedua dengan angka 14,22%, disusul dengan kesehatan 13,99%, dan kualitas SDM 7,83%.

Berdasarkan lokasi geografis, permasalahan yang muncul di daerah tidak jauh berbeda dengan persepsi nasional.

Di daerah, persepsi pengangguran mencapai 14,95%, inflasi 13,76%, dan kemiskinan 13,04%.

Masalah lainnya ialah isu jalan rusak 9,33%, biaya pendidikan yang mahal 7,5%, dan biaya obat yang mahal 6,76%.

Adapun, mayoritas responden berpendapat kondisi ekonomi nasional dalam setahun terakhir makin memburuk.

Namun, para responden lebih optimistis dengan kondisi ekonomi rumah tangga.

 Jumlah responden yang menilai kondisi ekonomi Indonesia memburuk dibanding setahun lalu mencapai 49,07%.

Sementara itu, responden yang menilai tetap buruk mencapai 21,51%, membaik 14,96%, dan tetap baik 11,09%.

Terkait persepsi keadaan ekonomi rumah tangga, jumlah responden yang menilai lebih buruk dmencapai 39,25% tetap baik 24,68%, tetap buruk 18,04%, dan membaik 17,25%.

Hasil survei menyebutkan, masyarakat kota sedikit lebih optimistis melihat kondisi ekonomi nasional dibanding masyarakat desa.

Sebanyak 18,7% responden dari Jawa menilai kondisi ekonomi membaik, sementara hanya 9,7% responden dari luar Jawa yang menilai kondisi ekonomi semakin baik.

 Survei juga menemukan dampak pemulihan belum sepenuhnya merata sehingga beban pandemi dirasakan lebih berat oleh sebagian besar masyarakat di desa dan yang tinggal di luar Jawa.

Sebanyak 40,8% responden asal desa menilai kondisi ekonomi rumah tangga memburuk. Sementara, hanya 38,1% responden kota yang menilai kondisi ekonomi rumah tangga memburuk.

Berdasarkan geografis, 40,7% responden luar Jawa menilai kondisi ekonomi rumah tangga memburuk. Sementara di Jawa, 38,2% responden menilai kondisi ekonomi rumah tangga memburuk.

Adapun, survei dilakukan dengan metode sampling acak bertingkat. Survei dilakukan selama tiga minggu, yaitu pada minggu pertama Oktober samapi dengan minggu keempat.

Wawancara dilakukan secara langsung dengan responden. Kemudian, keusioner terstruktur terprogram dengan CAPI smartphone dengan menerapkan protokol kesehatan.

Survei nasional ini dilakukan pada 29 provinsi. Total responden dalam survei mencapai 2.046 dengan margin of error 2,17%.

 Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 3,5%.

Realisasi ini lebih rendah dibandingkan proyeksi Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mencapai 4,5%. 

BPS juga mencatat, angka pengangguran pada Agustus 2021 mencapai 9,1 juta orang atau 6,49% dari total penduduk angkatan kerja di Indonesia.

Jumlah ini bertambah dibandingkan posisi Februari 2021 yang mencapai 8,5 juta orang atau 6,26%, tetapi turun dibandingkan Agustus 2020 sebesar 9,77 juta orang atau 7,07%. 



Reporter: Rizky Alika
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait