Pasar Mobil Listrik di Indonesia Besar Tapi Terhambat Produksi Baterai

Image title
25 Agustus 2021, 12:26
mobil listrik, baterai, Katadata Safe 2021
Katadata
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sony Sulaksono pada acara Katadata SAFE 2021.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sony Sulaksono mengatakan, tantangan terbesar Indonesia untuk mewujudkan ekosistem kendaraan listrik, termasuk mobil listrik, adalah produksi baterai.

“Yang paling penting adalah kesiapan industri baterainya sendiri,” kata Sony dalam acara SAFE Katadata Forum 2021, Rabu (25/8).

Sony mengatakan, meski Indonesia saat ini memiliki cadangan nikel yang besar, namun ke depannya harus tetap mempersiapkan alternatif pengembangan baterai kendaraan listrik (EV) jenis baru yang tidak mengandung nikel.

“Memang kita punya deposit besar, tapi kalau dikeruk terus lama-lama akan habis. Jadi kita harus siap dengan adanya tren-tren baru yang tidak hanya berbasis pada nikel,” kata dia.

MOBIL LISTRIK DI IIMS HYBRID 2021
MOBIL LISTRIK DI IIMS HYBRID 2021 (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/rwa.)

 

Selain itu, untuk mewujudkan ekosistem kendaraan listri di Indonesia, Sony meminta kepada para produsen baterai untuk dapat lebih memprioritaskan produksi baterainya untuk pembuatan kendaraan listrik bukan untuk kepentingan lain.

Pemerintah sendiri sudah memiliki roadmap atau peta jalan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia hingga tahun 2035. Di mana untuk mobil listrik, pemerintah menargetkan produksi yang mencapai 400 ribu unit per tahun pada 2025, 600 ribu unit per tahun pada 2030, kemudian 1 juta unit per tahun pada 2035. Adapun penurunan emisi gas buang pada 2035 ditargetkan sebesar 4,6 juta ton karbondioksida CO2.

Sementara itu, target produksi lokal sepeda motor listrik dalam jangka waktu yang sama adalah 1,76 juta unit per tahun pada 2025, 2,45 juta unit per tahun pada 2030, kemudian 3,22 juta unit per tahun pada 2035. Penurunan emisi gas buang dari sektor kendaraan roda dua pada 2035 ditargetkan sebesar 1,4 juta ton CO2.

“Kita sangat mendorong untuk dapat segera merealisasikan target-target ini. Kita juga mencoba membangun ekosistemnya, karena yang paling penting adalah membangun ekosistemnya terlebih dahulu dan ini tentu akan melibatkan banyak pihak,” kata dia.

Selain itu, untuk mendorong industrialisasi kendaraan listrik, pemerintah juga memberikan berbagai insentif baik fiskal maupun non fiskal.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pajak sudah memberikan sejumlah insentif bagi kendaraan listrik dan ramah lingkungan. Di antara bentuk insentif tersebut adalah Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 0 persen, pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor (BBN-KB) sebesar 0 persen di Jakarta dan sebesar 10% untuk mobil listrik, serta 2,5% untuk sepeda motor listrik di Pemprov Jawa Barat. Kemudian,  down payment atau uang muka minimum sebesar 0 persen dan pembebasan aturan ganjil genap di Jakarta.

Sementara itu, insentif bagi produsen kendaraan listrik maupun komponen-komponennya di sisi lain tak kalah beragam. Mulai dari mini tax holiday, tax holiday, sampai super tax deduction siap diberikan pemerintah.

Potensi Pasar Kendaraan Listrik di Indonesia

Chief Operating Officer PT Hyundai Motors Indonesia, Makmur mengatakan, bahwa potensi pasar untuk kendaraan listrik di Indonesia cukup besar. Hal ini didukung oleh berbagai insentif yang diberikan pemerintah baik fiskal maupun non-fiskal.

“Konsumen yang in-line dengan produk kami yakni berasal dari R-2, di mana pemakaian untuk charging di atas 3.500 watt. Ini konsumennya sudah sangat besar,” kata dia.

Adapun, yang harus dilakukan baik pemerintah maupun produsen otomotif untuk menarik minat masyarakat dan memperluas potensi pasar kendaraan listrik di Indonesia yakni dengan gencar mengedukasi masyarakat mengenai manfaat penggunaan kendaraan listrik.

Makmur mengatakan, pola pikir masyarakat perlu dirubah di mana penggunaan kendaraan listrik sama dengan menggunakan smartphone dalam kegiatan sehari-hari. Selain itu, perlu edukasi kepada masyarakat mengenai travel management saat menggunakan kendaraan listrik.

Edukasi menjadi pennting dilakukan agar konsumen dapat mengatur perjalanan dan waktu yang tepat untuk melakukan pengisian baterai, terutama bila akan melakukan perjalanan jarak jauh.

“Kami sendiri sudah menyiapkan informasi mengenai kapasitas baterai dan jarak yang bisa ditempuh dengan kapasitas tersebut di head unit kendaraan kami. Jadi bisa diatur di mana kita akan mengisi daya kembali,” kata Makmur.

Ia menyebut, penyediaan infrastruktur berupa stasiun pengisian baterai atau charging station juga semakin banyak dan mudah diakses. Hyundai menyediakan banyak charging station  di ruang publik, seperti hotel, pusat perbelanjaan ataupun restoran dari Jakarta hingga Banyuwangi.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Maesaroh
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait