Permintaan Meningkat, Harga Minyak Indonesia Naik 8,1 Persen

Faktor pendorongnya mulai dari kenaikan proyeksi permintaan global, turunnya stok minyak AS, hingga bencana Badai Matthew.
Anggita Rezki Amelia
7 November 2016, 21:18
minyak
Katadata

Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) terus merangkak naik seiring peningkatan harga minyak dunia. Ada beberapa faktor penyebabnya, terutama peningkatan permintaan minyak.

Tim harga minyak Indonesia mencatat, rata-rata harga ICP pada Oktober lalu sebesarUS$ 46,64 per barel atau naik 8,1 persen dari bulan sebelumnya. Kenaikan harga tertinggi pada minyak basket OPEC yaitu sebesar US$ 5,17 per barel menjadi US$ 47,97 per barel. Selanjutnya, minyak WTI di bursa Nymex yang naik US$ 4,71 per barel menjadi US$ 49,94 per barel.  

Sementara itu, untuk harga minyak ICP SLC tercatat naik US$ 4,47 menjadi US$ 47,55 per barel. Adapun harga minyak Brent di bursa ICE naik paling kecil yakni sebesar US$ 4,26 per barel menjadi US$ 51,39 per barel. (Baca juga: Rupiah dan Minyak, Penyebab Kenaikan Tarif Listrik Oktober)

Berdasarkan publikasi IEA (International Energy Agency), penguatan harga minyak mentah tersebut disebabkan beberapa faktor. Pertama, kenaikan proyeksi permintaan minyak mentah global tahun ini. Pada September lalu, permintaan diramal hanya sebesar 96,10 juta barel per hari (bph). Tapi, pada Oktober lalu, proyeksinya naik 0,20 juta bph menjadi 96,30 juta bph.

Hal tersebut senada dengan laporan organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) pada Oktober lalu. Proyeksi permintaan minyak mentah global naik 2,13 juta bph menjadi 94,40 juta bph. Adapun, proyeksi pasokan minyak mentah Non-OPEC  turun 0,02 juta bph menjadi sebesar 56,30 juta bph.

Kedua, IEA melaporkan, tingkat stok minyak mentah komersial baik bensin dan distilat Amerika Serikat selama Oktober menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Rinciannya, stok minyak mentah komersial turun sebesar 0.9 juta barel menjadi sebesar 468,2 juta barel. Sementara itu, stok bensin turun sebesar 1,4 juta barel menjadi sebesar 226 juta barel. IEA juga mencatat, stok distilat turun sebesar 8,3 juta barel menjadi 152,4 juta barel.

Ketiga, penguatan harga minyak didorong oleh rencana Arab Saudi dan negara-negara OPEC lainnya, seperti Rusia, untuk menurunkan tingkat produksi minyak mentah sebesar empat persen. "Hal ini meningkatkan ekspektasi bahwa OPEC akan sepakat untuk menurunkan tingkat produksi pada pertemuan negara-negara OPEC di bulan November 2016," kata Tim Harga Minyak Indonesia dalam keterangan tertulisnya akhir pekan lalu.

(Baca juga: OPEC Batasi Produksi, Harga Minyak Indonesia Naik)

Keempat, bencana Badai Matthew pada awal Oktober lalu di wilayah pesisir timur Amerika Serikat. Bencana tersebut turut mempengaruhi operasi pengapalan minyak mentah di wilayah tersebut. Badai tersebut telah mengganggu operasional fasilitas produksi di Gulf Coast AS.

Video Pilihan

Artikel Terkait