Banjir Dana Asing, Rupiah Menguat Nyaris 2% Sejak Awal 2018

BI mencatat aliran masuk dana asing ke pasar keuangan sepanjang Januari 2018 mencapai Rp 46 triliun, naik 170% dibandingkan periode sama tahun lalu.
Image title
26 Januari 2018, 17:54
Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami penguatan di awal 2018. Sepanjang Januari ini, nilai tukar rupiah telah menguat nyaris 2% ke level 13.300 per dolar AS. Penguatan terjadi karena membesarnya pasokan dolar AS seiring derasnya aliran masuk dana asing.

Mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 13.555 per dolar AS pada penutupan perdagangan di penghujung tahun lalu, sedangkan pada Jumat (26/1), nilai tukar ditutup di posisi Rp 13.306 per dolar AS. Ini artinya, nilai tukar rupiah telah menguat 1,84%.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengatakan aliran masuk dana asing ke pasar keuangan sepanjang 1 sampai 26 Januari mencapai Rp 46 triliun. Jumlah tersebut naik 170% dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya sebesar Rp 17 triliun. 

"Jadi ini (menunjukkan) bagaimana minat dari investor luar negeri karena percaya pada ekonomi Indonesia," kata Agus di Kantornya, Jumat (26/1). (Baca juga: Utang Luar Negeri Dongkrak Cadangan Devisa Cetak Rekor di Akhir 2017)

Advertisement

Menurut dia, minat investor asing terhadap Indonesia lantaran melihat laju pertumbahan ekonomi, rendahnya inflasi, serta turunnya risiko investasi yang tercermin dari kenaikan lebih lanjut peringkat utang jangka panjang Indonesia oleh Fitch Ratings pada Desember lalu.

"Jadi itu adalah bagian resiliensi ekonomi Indonesia tambah baik. Dan kami harus mengejar agar pertumbuhan ekonomi yang inklusif itu bisa kami wujudkan," kata dia. (Baca juga: Jokowi Yakin ASEAN-India Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi di Kawasan)

Ekonom Bank Central Asia David Sumual mengatakan besarnya aliran dana asing seiring dengan banyaknya penerbitan obligasi oleh pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan korporasi swasta di awal tahun.

"Sejak awal tahun kita memang banyak terbitkan bonds juga ya global masuk yang swasta maupun BUMN dan pemerintah cukup laku di pasar, ini menambah pasokan dolar di pasar," kata dia.

Dengan perkembangan ini, ia memprediksi nilai tukar rupiah bisa bergerak di kisaran 13.000-13.300 per dolar AS di semester I. Namun, nilai tukar rupiah berisiko melemah ke kisaran 13.300-13.600 di semester II seiring dengan membesarnya ketidakpastian, terutama terkait kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed).

"Semester II banyak ketidakpastian, termasuk kecepatan The Fed menaikkan suku bunga. (Selain itu) ini kan pemerintah AS baru meluncurkan reformasi pajak. Mungkin efeknya mulai terasa di semester II," kata David.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait