Opini

Usangnya Indikator PDB di Tengah Revolusi Digital

Revolusi digital membuat nilai perekonomian seolah-olah melambat. Namun kenyatannya, kita menikmati peningkatan consumer surplus secara signifkan.

Rahmanda Muhammad Thaariq

Peneliti Ekonomi Perkumpulan Prakarsa

Peneliti Ekonomi Perkumpulan Prakarsa Rahmanda M. Thaariq
Ilustrator Katadata/Betaria Sarulina
Peneliti Ekonomi Perkumpulan Prakarsa Rahmanda M. Thaariq

Semenjak Konferensi Bretton Woods 1944, Produk Domestik Bruto (PDB) telah mempertahankan posisinya sebagai indikator utama dalam mengukur nilai aktivitas ekonomi suatu negara. Sementara itu, tak banyak yang menyadari bahwa teknologi digital telah membuat perhitungan PDB kian meleset dalam mengukur nilai aktivitas ekonomi kita yang sebenarnya.

PDB adalah nilai moneter atau nilai pasar dari keseluruhan produk final baik barang maupun jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu (tahunan atau kuartalan). Dengan kata lain, PDB merupakan hasil agregat dari harga dikali dengan kuantitas.

Apabila harga atau kuantitas atau keduanya meningkat maka nilai PDB otomatis meningkat. Begitu pula sebaliknya, jika harga atau kuantitas atau keduanya menurun maka nilai PDB menurun.

(Baca juga: Ekonomi Digital Diprediksi Sumbang 9,5% PDB pada 2025)

Selain digunakan untuk mengukur nilai aktivitas ekonomi, PDB merupakan basis utama dalam mengukur pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Dengan membandingkan nilai PDB antar periode maka tingkat pertumbuhan ekonomi bisa diketahui. Apabila PDB dibagi dengan populasi penduduk atau populer dengan sebutan PDB per kapita maka tingkat kesejahteraan bisa diukur.

Sampai saat ini kalangan pembuat kebijakan, akademisi, dan analis masih menganggap bahwa PDB adalah cerminan kesehatan ekonomi sehingga harus diamati pergerkannya setiap saat. Pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan PDB yang tinggi merupakan cerminan ekonomi yang sehat.

Sebab pertumbuhan ekonomi yang tinggi merefleksikan semakin besarnya permintaan akan barang dan jasa, dan pada gilirannya akan memperluas penciptaan lapangan pekerjaan, meningkatkan upah, dan perbaikan kesejahteraan. Tentunya, pertumbuhan ekonomi yang rendah akan diinterpretasikan sebaliknya.

Hampir satu dekade badai krisis ekonomi dunia 2008 berlalu, data Bank Dunia menunjukkan pertumbuhan ekonomi dunia tidak lebih baik dibandingkan periode sebelum krisis.  Rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia setelah krisis hanya 2,5%.

Padahal rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia satu dekade sebelum krisis 2008 adalah 3,4%. Bahkan, pola pertumbuhan ekonomi dunia setelah krisis juga memperlihatkan fenomena stagnasi.

Sama halnya yang terjadi di sisi PDB per kapita, menjelang satu dekade krisis ekonomi dunia 2008, PDB per kapita dunia hanya tumbuh 14% dari US$9.374 pada 2008 ke US$10.714 pada 2017. Padahal pada 1998 PDB per kapita dunia sebesar US$5.258. Artinya, selama satu dekade tersebut, dunia telah menikmati perbaikan kesejahteraan yang hampir dua kali lipat.

(Lihat Ekonografik: 2030, PDB Indonesia Terbesar Keempat di Dunia)

Fenomena perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dan PDB per kapita belakangan ini memunculkan banyak spekulasi yang tidak mengenakkan. Beberapa ekonom makro berpendapat bahwa perekonomian dunia memasuki kondisi secular stagnation. Sebuah kondisi di mana permintaan agregat atas barang dan jasa mengalami pertumbuhan yang ‘mandeg’.

Tidak sampai disitu, ada pihak yang berani menyebut bahwa perekonomian dunia sedang menunjukkan gejala the end of growth atau inovasi telah mencapai titik kulminasinya.

Klaim perekonomian dunia memasuki secular stagnation atau the end of growth boleh jadi dianggap terlampau berlebihan. Namun, jangan lupa dalam satu dekade terakhir pula revolusi digital sedang berlangsung secara masif.

Tidakkah kita menyadari bahwa dari waktu ke waktu kita mengonsumsi produk gratis lebih banyak? Sebut saja mendapatkan pengetahuan melalui Wikipedia, berkirim pesan melalui WhatsApp, berkirim surat melalui Gmail, menonton video melalui Youtube, panggilan video melalui Skype, menavigasi perjalanan melalui Google Map, dan masih banyak lagi.

Siapapun pasti sepakat bahwa mengonsumsi barang dan jasa secara cuma-cuma adalah hal bagus. Karena dengan anggaran belanja yang tetap, kita bisa mengonsumsi barang lebih banyak dan bervariasi.

Sayangnya, hal ini menimbulkan masalah dalam pengukuran PDB. Gratis berarti harga nol dan ingat bahwa PDB adalah hasil dari harga dikali kuantitas. Artinya, berapapun kuantitas yang dikonsumsi masyarakat jika produk tidak memiliki harga maka tidak menjadi pemberat nilai dalam PDB.

Jumlah konsumen produk ‘gratisan’ tidak bisa dipandang sebelah mata. Wikipedia mencatat pada Oktober 2018 terdapat lebih dari 16 miliar kunjungan halaman. Rata-rata penonton bulanan Youtube pun mencapai 149 miliar.

Di Google Play, Google Map telah diunduh lebih dari 1 miliar. Di sisi lain, sampai pertengahan 2018 terdapat 1,4 miliar pengguna aktif Gmail, 1,5 miliar pengguna aktif WhatsApp, dan 300 juta lebih pengguna aktif Skype.

Ketika Anda menelpon saudara Anda melalui telepon seluler, misalnya, maka hal tersebut akan tercatat dalam penerimaan perusahaan dan pada akhirnya akan terjumlah dalam statistik PDB, namun tidak akan tercatat apabila Anda melakukannya melalui WhatsApp atau Skype.

Ketika perhitungan PDB disepakati lebih dari setengah abad yang lalu, tak ada yang menyangka di masa depan produsen bisa memasarkan produk secara masal tanpa harga. Erik Brynjolfsson, ekonom teknologi kenamaan dari Massachusetts Institute of Technology, menjelaskan bahwa hal ini terjadi karena marginal cost replikasi dan transmisi produk digital nyaris nol.

Terlebih lagi, berbeda dengan produk fisik, produk digital bersifat non-rival — ketika dikonsumsi oleh satu orang, barang tersebut bisa dikonsumsi orang lain secara bersamaan.

Selain menciptakan produk tanpa harga, teknologi digital juga mampu menurunkan harga suatu produk, bahkan diiringi dengan peningkatan kualitas dan ragam. Hal ini dapat terlihat jelas dalam produk musik dan buku.

Kini, harga berlangganan musik streaming satu bulan bahkan lebih murah daripada harga pembelian sebuah CD album musik. Sementara itu, rata-rata harga jual e-book yang bestseller di Amerika Serikat lebih murah 22% dibandingkan harga jual buku cetak. Bahkan, di Tiongkok,  e-book paling laku terjual dibanderol 74% lebih murah dibandingkan buku cetak.

Melihat turunnya harga produk musik dan buku digital maka jangan heran apabila total pendapatan industri tersebut turut menyusut. Data dari International Federation of the Phonographic Industry (IPFI) menunjukkan bahwa pada 2017 total pendapatan industri musik hanya sebesar US$17 milyar, lebih rendah 33% dibandingkan pada 2000 yang sebesar US$25,2 milyar. Asosiasi Penerbitan Buku Amerika Serikat menyebut selama lima tahun terakhir pendapatan industri buku berada dalam tren penurunan.

Meskipun terjadi penurunan pendapatan di industri musik, nyatanya konsumen menikmati kualitas suara yang lebih baik dan bisa mengakses tanpa batas lagu dan artis melalui streaming. Walaupun industri buku mengalami penurunan pendapatan, kini konsumen bisa mengakses buku ratusan kali lipat lebih banyak melalui toko buku online.

Apabila rata-rata toko buku konvensional hanya memiliki 40.000 judul buku, toko buku online, seperti Opentrolley.com bisa menyediakan 10 juta judul buku dan bahkan Bookdepository.com sanggup menyediakan 19 juta judul buku.

Semakin banyak konsumsi produk digital sebenarnya menghasilkan nilai ekonomi yang semakin besar pula, namun hal itu sulit terekam dalam PDB karena konsep perhitungan PDB sendiri adalah nilai pasar. Oleh karenanya, konsumsi produk digital tanpa harga tidak akan terlihat dalam statistik PDB. Produk digital yang memiliki harga lebih murah dibandingkan substitusi produk fisiknya akan mengurangi perhitungan nilai PDB.

Penelitian dari Erik Brynjolfsson dan Joo Hee Oh mengungkap fakta bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat saja dalam kurun waktu 2007–2011 dapat tumbuh 0,3% lebih tinggi apabila mempertimbangkan produk digital tanpa harga.

Disamping itu, penelitian lain milik Leonard Nakamura dkk. memperkirakan pertumbuhan ekonomi riil Amerika Serikat selama 2005–2015 seharusnya tumbuh 1,53% daripada yang tercatat sebesar 1,42%.

Revolusi digital membuat nilai perekonomian seolah-olah melambat. Namun kenyatannya, kita menikmati peningkatan consumer surplus secara signifkan. Bagaimanapun juga, revolusi digital masih setengah jalan. Pada 2017, penetrasi internet baru separuh dari populasi penduduk dunia dan diperkirakan meningkat secara eksponensial dalam beberapa tahun mendatang.

Ini berarti, indikator PDB semakin misleading dalam menghitung nilai ekonomi yang tercipta. Mengingat perhitungan tingkat kesejahteraan juga berbasis data PDB maka indikator PDB per kapita pun semakin tak relevan. Kita akan salah mendiagnosis perekonomian apabila masih bergantung pada data PDB.

Percayalah, nilai ekonomi dunia lebih besar dan perbaikan kesejahteraan lebih baik daripada yang ditampilkan dalam data. Sudah saatnya para ekonom dan ahli statistik merumuskan standar formula baru dalam menghitung nilai aktivitas ekonomi yang mempertimbangkan efek digitalisasi.

(Opini lainnya: Menularkan Revolusi Industri Penerbangan ke Angkutan Laut)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Opini dan Wawancara Terpopuler