Order Pengemudi Perempuan Go-Jek Sering Dibatalkan Dibanding Pria

Ada persepsi di masyarakat bahwa perempuan tidak aman dalam berkendara.
Desy Setyowati
27 November 2018, 16:31
Go-Life Gojek
ANTARA FOTO/Audy Alwi
Artis Nadine Chandrawinata (kedua kanan) dan Sabai Dieter (kanan) menikmati layanan GO-GLAM disela Campaign "Wanita Masa Kini" dari GO-LIFE yang diselenggarakan GO-JEK, di Jakarta, Rabu (18/4).

Penyedia layanan on-demand  Go-Jek menyampaikan, tingkat pembatalan layanan (cancellation rate) mitra pengemudi perempuan 2,7% lebih tinggi dibanding laki-laki. Sebagian besar terjadi karena ada persepsi di masyarakat bahwa perempuan tidak aman dalam berkendara.

Chief Public Policy and Government Relations Go-Jek Shinto Nugroho mengatakan, persepsi tersebut membuat peluang bagi mitra pengemudi perempuan Go-Jek mendapat tambahan penghasilan menurun. "Padahal, mereka memiliki kemampuan dan keterampilan yang mumpuni dalam mengendarai motor dengan aman,"  kata dia saat diskusi Keselamatan Berlalu Lintas di kantornya, Jakarta, Selasa (27/11).

Menurutnya, Go-Jek rutin menggelar pelatihan keselamatan berkendara kepada perempuan. Bahkan, Go-Jek bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dan startup yang fokus memberdayakan perempuan agar berkendara aman, Queenrides. "Kami juga ada modul (berkendara aman), diberikan di awal," katanya.

Meski demikian, ia menyampaikan bahwa peluang pendapatannya tetap terbuka meski sering dibatalkan layanannya. Sebab, Go-Jek memiliki banyak layanan. "Kalau dibatalkan, mereka masih bisa mengambil layanan Go-Food," kata dia.

Advertisement

(Baca juga: Perang Diskon Go-Pay dan OVO, Apa Saja yang Ditawarkan?)

Hadir pada kesempatan itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pengemudi perempuan harus terus memperbaiki kemampuan berkendaranya. Selain itu, ia mengimbau agar mitra pengemudi membawa perlengkapan berkendara dan percaya diri. "Kalau semua sudah lengkap, pasti tidak dibatalkan," ujarnya.

Selain itu, mitra pengemudi harus mengatur kecepatan yakni maksimal 40 kilometer (km) per jam. Sebab, menurut dia ada dua hal pokok dalam berkendara yakni perlengkapan dan kecepatan. Sejalan dengan hal itu, ia berencana mengadakan program pelatihan khusus pengendara perempuan secara rutin.

Sementara itu, Founder dan CEO Queenrides Iim Fahima Jachja mengatakan, jumlah pengendara perempuan naik 42% dalam kurun waktu empat tahun. "Tapi, angka kecelakaan yang melibatkan perempuan dalam dua tahun naik 49,5%," kata dia.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait