Belajar dari Inggris Soal Sulitnya Mengatur Inovasi

Inggris pernah membuat regulasi yang secara tidak langsung membatasi kecepatan mobil hingga tak melebihi kereta kuda.
Pingit Aria
3 Mei 2018, 11:50
Lin Che Wei
Katadata
Policy Advisor Menko Perekonomian & Founder Katadata Lin Che Wei dalam Asia Pacific Media Forum ( APMF) 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (2/5).

Kesulitan pemerintah untuk mengatur kegiatan ekonomi digital bukan lagi rahasia. Beberapa regulasi terkait fintech, e-commerce hingga usaha untuk menarik pajaknya belum juga terealisasi.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sendiri mengakui bahwa teknologi berkembang begitu cepat sehingga membuat pemerintah kewalahan mengaturnya. "Baru mau buat draf Peraturan Menteri Keuangan (PMK), muncul lagi feed back yang lain. Ini seperti racing yang terus menerus," kata dia beberapa waktu lalu.

Toh Indonesia tak sendiri. Uni Eropa misalnya, masih harus bekerja keras untuk menarik pajak lebih besar dari perusahaan teknologi raksasa seperti Google.

Polemik soal bagaimana regulasi mengatur inovasi pun tak hanya terjadi di era digital. Policy Advisor Menko Perekonomian Lin Che Wei mencontohkan bagaimana Inggris pada 1865 pernah mengeluarkan kebijakan bernama Red Flag Act.

Advertisement

(Baca juga: Bisnis Serba Digital: Untuk (Si) Apa?)

Di masa awal perkembangan kendaraan bermotor itu, mobil-mobil yang melintas harus mengibarkan bendera merah atau menyalakan lentera untuk memperingatkan orang-orang di jalan. Secara tak langsung, kewajiban ini membuat kendaraan bermotor tak bisa melaju melebihi kecepatan kereta kuda.

Menurut Lin Che Wei, ide dasar aturan tersebut adalah pemerintah ingin melindungi para penyedia kereta kuda. “100 tahun setelahnya kita bersama menertawakan aturan itu. Tapi apa yang kita lihat sekarang adalah kita sedang menawarkan Red Flag Act terkait inovasi,” katanya dalam Asia Pacific Media Forum ( APMF) 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (2/5).

Yang cukup hangat dibahas misalnya bagaimana pengusaha retail konvensional yang harus mengelola toko meminta perlakuan sama dengan e-commerce yang barang dagangannya diantar kurir. Begitu juga perusahaan taksi konvensional yang memiliki semua armadanya ingin perlakuan sama dengan aplikator taksi online yang armadanya dimiliki oleh mitra pengemudi.

(Baca juga: Go-Jek Ekspansi ke Asia Tenggara, Nadiem: Waktunya Indonesia Menyerang)

Ia pun mengkritik pihak-pihak yang selalu menuntut equal playing field pada bisnis digital dan konvensional. “Jawaban saya adalah, bagaimana bisa equal jika Anda punya dua hal berbeda.”

Lin Che Wei yang juga salah satu pendiri Katadata menyatakan, pemerintah selalu menjadi sasaran kritik dari dua arah soal inovasi. Ada yang menyatakan bahwa inovasi semestinya bebas dari regulasi. Tapi ada juga yang menyatakan sebaliknya, seperti ketika terjadi kebocoran data Facebook.

Menurutnya, perkembangan teknologi akan membagi masyarakat dalam dua kelompok besar: mereka yang memberi perintah pada komputer, dan mereka yang diperintah komputer. “Kedua kelompok ini akan selalu bergesekan.”

Lin Che Wei menjadi pembicara dalam forum APMF bertema "Playing Catch Up: How Indonesia is Going to be The Next Big Thing. Selain dia, pembicara lainnya yakni ekonom Faisal Basri, dan Managing Partner IDEOSOURCE Andi S Boediman.

Dalam APMF yang berlangsung tiga hari, Katadata menjadi salah satu peserta Expo yang memberikan beragam solusi terkini di bidang teknologi, komunikasi, dan digital. 

(Baca juga: Faisal Basri: Pertumbuhan Ekonomi Tak Cukup Bila Hanya 5%)

Reporter: Muhammad Firman
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait