Bisnis Consumer Banking DBS Terancam Anjlok Akibat Gejolak Global

“Ada faktor tidak menentunya ekonomi, tapi target kami masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional.”
Ameidyo Daud Nasution
9 Februari 2017, 19:03
bank dbs
KATADATA

PT Bank DBS Indonesia menargetkan pertumbuhan bisnis consumer banking hanya mencapai 18 persen tahun ini. Angka tersebut berarti turun signifikan dari realisasi pertumbuhan segmen bisnis pendanaan konsumsi ini yang tahun lalu mencapai 62 persen.

Direktur Consumer Banking Grup DBS Indonesia Wawan Salum mengatakan, adanya beberapa fenomena global seperti Brexit, situasi politik Amerika Serikat, serta ketidakpastian tingkat suku bunga The Fed membuat pihaknya cenderung pesimistis. Namun, dia mengatakan target 18 persen tersebut masih dapat dikatakan agresif.

“Ada faktor tidak menentunya ekonomi, tapi target kami masih lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya saat konferensi pers DBS Indonesia di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (9/2).

(Baca juga: Risiko Arus Keluar Modal Asing di Akhir Tahun Perlu Diwaspadai)

Sementara itu, penurunan juga terjadi pada segmen wealth management yang ditargetkan minimal hanya tumbuh 18 persen, turun drastis dari tahun lalu yang mencapai 44 persen. Adapun Kredit Pemilikan Rumah (KPR) kemungkinan hanya tumbuh 50 persen tahun ini dari tahun sebelumnya yang mencapai 80 persen.

Sekadar informasi, bisnis wealth management DBS Indonesia tercatat naik menjadi Rp 13,1 triliun. Adapun secara keseluruhan pendapatan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 16 persen pada akhir 2016 lalu yakni menjadi Rp 17,2 triliun. “Tapi itu target minimal yang kami tetapkan,” katanya.  

Untuk mengejar target pertumbuhan 18 persen, DBS mengandalkan beberapa cara. Salah satunya adalah turut dalam program pengampunan pajak yang telah dimulai sejak November lalu. Untuk diketahui, DBS Indonesia merupakan salah satu dari 77 bank persepsi yang telah ditunjuk pemerintah untuk sebagai penampung dana repatriasi tax amnesty

(Baca juga: Tren Nasionalisme di Negara Maju, Dana Asing Keluar Membesar)

Wawan mengatakan dengan dikuncinya repatriasi di bank dalam negeri maka akan ada perpindahan dana antarbank lokal, termasuk DBS Indonesia, “Kami harap dana-dana tax amnesty ini bisa menjadi pendorong,” katanya.

Selain dari tax amnesty, beberapa produk consumer banking juga akan jadi andalan untuk memacu pertumbuhan bisnis. Salah satunya dengan  mempersiapkan konsep digibank yang rencananya akan diluncurkan April mendatang. Wawan menjelaskan digibank adalah sejenis format mobile banking dengan pengalaman perbankan signatureless, paperless, serta branchless.

Konsep digibank ini dilengkapi dengan kecerdasan buatan dan berbasis biometri bagai penggunanya. Sistem kecerdasan buatan ini diklaim mampu menjawab 90 persen pertanyaan konsumen layaknya call center.

(Baca juga: BTN Luncurkan Kantor Cabang Digital untuk Millenial

“Secara otomatis juga ada pendeteksi apabila pertanyaan tidak terjawab maka call center kami akan langsung menelpon nasabah,” katanya.

Adapun Head of Treasures Sales and Distribution DBS Indonesia Melfrida Waty Gultom mengatakan program digital lainnya yakni Relationship Manager (RM) Mobility yang diluncurkan kuartal tiga 2016 cukup sukses. Kesuksesan terlihatb dari 40 persen efisensi kerja RM. “Artinya arahnya memang saat ini paperless,” kata Melfrida.

Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait