Dicari: Startup Pembuat

Sekitar 90% produk yang ditransaksikan di e-commerce adalah produk impor. Pelaku bisnis di Indonesia dapat belajar dari penginovasi di Tiongkok dan Vietnam.
Ade Febransyah
Oleh Ade Febransyah
29 Agustus 2020, 11:00
Ade Febransyah
Ilustrator: Betaria Sarulina
Pameran startup teknologi dan inovasi industri anak negeri di Hall B JCC, Jakarta, pada Kamis (3/10). Hampir 400 startup teknologi akan meramaikan Pameran Startup Teknologi dan Inovasi Industri Anak Negeri (I3E).

Sekarang memang eranya ekonomi serba digitalStartup atau perusahaan rintisan berbasis digital terus bermunculan.  Pendirinya terobsesi untuk menjadi unicorn-unicorn baru dan bermaksud membantu masyarakat menyelesaikan segala urusannya. Apapun urusannya, solusi ada di tangan kita, di gadget kita.

Tapi sungguhkah startup harus semata-mata berupa layanan berbasis digital? Sungguhkan masyarakat hanya butuh pinjaman sehingga ada fintech lending? Sungguhkah kita hanya ingin mendapatkan produk dengan mudah di marketplace? Sungguhkah masyarakat hanya ingin dimanjakan lewat berbagai layanan digital?  Sungguhkah tidak ada tempat bagi mereka yang ingin menjadi pembuat, menjadi pembuat apa saja yang dibutuhkan masyarakat?

Jalan Untuk Membuat

Layanan berbasis digital membuat kehidupan kita jadi lebih mudah. Cari produk apa saja, hampir bisa dipenuhi lewat e-commerce. Makanan, minuman, keperluan rumah tangga hingga onderdil mobil bisa dicari di pasar online. Terima kasih kepada penyedia platform e-commerce yang sudah mempertemukan pembeli dan penjual dalam pasar digital.

Terlepas dari kemudahan yang ditawarkan kepada masyarakat dalam berkonsumsi, coba renungkan sejenak siapa yang paling menikmati dari kegiatan belanja lewat e-commerce? Kenyataanya sekarang ini sekitar 90% produk yang ditransaksikan di e-commerce adalah produk impor. Jelas para pembuat di luar Indonesia yang menikmati nilai tambah paling besar. Tentu ada sebagian nilai yang dinikmati pelaku bisnis logistik di Tanah Air hingga 25% dari setiap transaksi dan juga service fee buat penyedia platform e-commerce.

Tapi coba bayangkan seandainya kebalikannya yang terjadi, sebagian besar produk yang dikonsumsi adalah produk buatan dalam negeri. Dan ‘kue besar’ pasar online tersebut akan terbagi ke para pembuat di Tanah Air dan jejaring pasokannya. Devisa dapat dihemat, ekonomi nasional semakin kuat, pelaku bisnis tambah semangat, bangsa jadi berdaulat. Inilah baru Indonesia hebat!

Bagi pelaku e-commerce di Indonesia, silakan belajar dari Alibaba. Dikenal sebagai negerinya para pembuat, Alibaba didirikan dengan maksud baik, yaitu membantu para pembuat disana mendapatkan pembeli dari seluruh dunia lewat pasar digital Alibaba. Inilah sebaik-baiknya sosok pendiri bisnis digital seperti Jack Ma, a man of purpose. Bisnis diawali dengan maksud baik, mulia bahkan;memajukan kekuatan bisnis dalam negeri.

Namun, itu di Tiongkok. Semangat dan kultur sudah terbentuk di masyarakatnya. Mulai dari strategi pengimitasi yang cerdas (smart imitator), sebagian pembuat di sana berhasil mentransformasikan dirinya dari sekadar pengimitasi menjadi penginovasi sesungguhnya. Hampir tidak ada yang tidak dibuat oleh pembuat Negeri Tirai Bambu. Mulai dari produk-produk rumah tangga hingga yang futuristik.

Menyambut tantangan masa depan, startup-startup pembuat electric vehicle pun bermunculan.  Mulai dari mobil listrik yang sangat terjangkau hingga yang canggih akan ditawarkan ke pasar. Salah satu startup ambisius XPeng sudah menyiapkan diri untuk menembus pasar bursa Amerika Serikat. Mendapatkan gelontoran dana hingga ratusan juta dollar dari Alibaba dan investor luar negeri, XPeng percaya diri untuk menjadi Tesla-nya Tiongkok. 

Startup lainnya yang patut mendapatkan perhatian adalah Nio. Mengusung teknologi maju dengan desain yang stylish akan membuat mobil listrik Nio keluar dari kerumunan produk tipikal asal Tiongkok. Salah satu yang membedakannya dari mobil listrik pada umumnya adalah teknologi battery swap, yang memungkinkan mengganti baterai lama dengan yang baru hanya dalam tiga menit saja. Jauh lebih cepat ketimbang harus mengisi ulang baterai yang paling cepat sekarang ini, yaitu 45 menit. 

Lain XPeng dan Nio, lain pula Geely, pabrikan mobil ternama Tiongkok yang sudah membeli Volvo. Produsen otomotif ini baru saja memperkenalkan prototip mobil listrik prestigious Polestar yang digadang akan head-to-head dengan Tesla.

Dari apa yang dilakukan dilakukan pembuat asal Tiongkok, terlihat mereka sudah masuk kontestasi penginovasi tingkat dunia. Bagi pabrikan-pabrikan mobil listrik tersebut, mereka memiliki kesamaan, yaitu menjadikan Tesla, pelaku terdepan di industri pembuat EV, sebagai referensi bagi pengembangan produk mereka. Posisi produk mereka jelas, seperti Tesla, bermain di teknologi tinggi dengan sytle yang tinggi juga. Dengan kata lain mereka mengejar high value dari produk mereka. Hal ini mungkin terjadi karena kekuatan pendanaan dan teknologi yang dimiliki.

 

Selanjutnya: Inovasinya Indonesia

Ade Febransyah
Ade Febransyah
Guru Inovasi Prasetiya Mulya Business School
Editor: Redaksi

Video Pilihan

Artikel Terkait