Beralih ke Energi Terbarukan Butuh Kreativitas dan Kolaborasi

Multi Bintang sedang menyelesaikan pemasangan PLTS Atap yang ditargetkan selesai di Q3 2023. Saat panel-panel surya ini terpasang, MLBI akan punya 70 % sumber energi terbarukan.
Rezza Aji Pratama
30 September 2022, 06:30
Ika Noviera-MLBI
Katadata

Empat tahun lalu, PT Multi Bintang Indonesia Tbk menandai perjalanan menuju net zero emission dengan membangun fasilitas pembangkit biomassa di Sampangagung, Mojokerto. Saat itu, emiten berkode MBLI ini jadi yang pertama di sektor consumer goods yang punya fasilitas tersebut. 

Tahun demi tahun berlalu, MLBI terus menambahkan portofolionya di energi terbarukan. Produsen bir ini juga membangun fasilitas biogas di pabriknya di Tangerang. Saat ini, Multi Bintang tengah merampungkan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang ditargerkan selesai di kuartal ketiga tahun depan.

“Kalau PLTS ini selesai, bauran EBT kami akan mencapai 70 %,” kata Direktur Corporate Affair MLBI Ika Noviera saat berbincang dengan Katadata.co.id.

Multi Bintang memang punya visi besar dalam upayanya mengurangi emisi. Perusahaan yang terafiliasi dengan produsen bir global, Heineken Lager Beer, ini menjadikan keberlanjutan bisnis sebagai misi utamanya.

Advertisement

Saat berbincang dengan Katadata, Ika banyak bercerita mengenai tantangan sekaligus harapan perusahaan soal target net zero emission. Menurutnya, upaya ini perlu dilakukan semua pihak untuk memastikan keberlanjutan bisnis di tengah ancaman perubahan iklim.

Multi Bintang meluncurkan program ‘Brewing a Better World’ untuk mendukung bisnis berkelanjutan. Bisa dielaborasi mengenai program ini?

MLBI merupakan produsen Bir Bintang yang menjadi bagian dari Heineken global. Kami sudah 90 tahun di Indonesia sehingga kami berpikir bagaimana bertahan for the next 90 years. Lanskap Indonesia itu unik sehingga kami ingin bisa bertahan dari sisi lingkungan dan keberlanjutan.

Di tingkat global, Heineken sudah berkomitmen dalam melawan perubahan iklim. Heineken saat ini merupakan anggota dari The Climate Pledge dan RE100. Jadi memang sebagai bagian dari perusahan global, kami mengikuti arahan. Tapi pada saat yang sama, keberlanjutan bisnis kami di Indonesia juga tidak terhindarkan. Kami ingin setiap konsumen yang mengonsumsi produk kami tahu bahwa bir itu dibuat dengan energi bersih.

Sebagai perusahaan, kami menyadari bahwa ancaman perubahan iklim itu sangat serius sehingga sudah saatnya kami mengambil tindakan. Heineken menargetkan di 2030 di lini produksi sudah mencapai net carbon dan di 2040 lini supply chain juga bisa mencapai hal yang sama. 

Saat ini apa saja sumber EBT yang dipakai Multi Bintang?

Yang sudah berjalan, kami menggunakan biogas dan biomassa yang berkontribusi sekitar 28 % dari kebutuhan energi. Di 2022 juga sedang dalam proses penambahan fasilitas biomassa di pabrik. Prosesnya sudah 80 % dan ekspektasi di akhir tahun ini akan beroperasi. 

Selain itu kami sedang mengupayakan untuk memasang PLTS atap di dua brewery. Harapannya di Q1 2023 sudah beroperasi sepenuhnya. Nah, kalau semua sudah terpasang, 70 % energi kami berasal dari EBT. 

Sisanya 30% ini sudah enggak ada lagi yang bisa kami lakukan. Jadi kami berkolaborasi dengan PLN mencari green option yang sekiranya pas. 

Bagaimana bentuk kerja sama dengan PLN?

Semua industri saat ini pasti pakai listrik dari PLN. Yang sedang kami jajaki saat ini memang belum ada produknya, kita sebut green tariff.  Kita masih menjajaki karena sekarang kita pakai tarif biasa. Nah green tariff itu sama seperti yang kita pakai tetapi menggunakan sumber listrik dari energi terbarukan.

Jadi kita tetap mempercayakan suplai listrik dari PLN. Cuma pertanyaannya pasokannya dari mana? Itu yang sedang kita jajaki dengan PLN. Jadi kita berharapnya tidak mengurangi supply dari PLN tetapi cuma mengubah atau mengganti dengan pembangkit EBT.

Jadi kami tidak ingin membuat pembangkit sendiri. Semangatnya bukan berhenti berlangganan dari PLN, tapi bagaimana kami masih bisa berlangganan dengan PLN tetapi PLN menyediakan pembangkit yang berkelanjutan. 

Di lapangan banyak keluhan dari pelanggan kepada PLN saat memasang PLTS atap, bagaimana dengan Multi Bintang?

Sebenarnya begini ya, kalau dari sisi regulasi enggak ada aturan seperti itu [pembatasan kapasitas terpasang PLTS]. Makanya kalau harapannya kepada pemerintah itu aturannya sudah bagus, kita apresiasi tetapi petunjuk teknisnya ada beberapa yang harus dilengkapi.

Kebetulan kita bergabung dengan perusahaan lain yang mengalami keadaan itu. Kami enggak bisa bicara atas nama mereka, tapi dari MLBI kita bilang jangan panik dulu. Jangan-jangan kebutuhan kamu nggak sampai 15%, jadi cek dulu. Bisa jadi butuhnya hanya segitu, kalau lebih pun secara regulasi tidak melanggar. Saya pikir bisa dibicarakan dengan PLN dan kalau kami mengalami itu, kita akan bicara baik-baik aja dengan mereka.

Fasilitas Biogas Multi Bintang
Fasilitas Biomassa Multi Bintang di Mojokerto (Multi Bintang)

 

Bagaimana strategi perusahaan mengejar target net zero? 

Di Heineken itu ada strategi bagaimana mencapai net zero itu sendiri. Ada 4 step yang kita yakini. Pertama kita mulai dari reduce dulu. Itu dilakukan dalam fasilitas produksi sehingga bisa lebih efisen dalam penggunaan energi. Saat ini kita fokus di lini produksi karena itu yang bisa kita kontrol. Adapun di aspek suplai chain, itu kita selalu menantang vendor kita untuk melakukan yang terbaik demi mengurangi emisi. 

Selanjutnya replace dengan green procurement yang kami sudah explore termasuk yang sudah dilakukan dengan biogas dan biomassa. Jadi di fasilitas biomassa kami itu bahan bakarnya pakai sekam padi untuk memasak bir. Ampas dari pembakaran itu, abunya difermentasi menjadi pupuk. Jadi semua kami pikirkan betul supaya ada impact-nya dengan baik.

Kemudian kami baru masuk ke remove salah satunya dengan membeli renewable energy dan carbon offset. Itu terakhir kalau di Heineken. Reduce sudah, replace sudah, habis itu sisanya yang enggak bisa diapa-apain baru ke remove

Kemudian terakhir itu report, jadi 4R kita bilangnya: reduce, reuse, remove, report. Ini lebih ke monitoring. Evaluasi sesuai dengan standar yang kita sama-sama pegang seperti pakai SBTI [Science Based Technology Initiative]. Jadi memang arahnya ke sana semua, tidak bisa dihindari, dan harus kita lakukan. Dan untungnya kita sudah cukup start early dalam perjalanan sustainability.

Berapa nilai investasi MLBI untuk beralih ke EBT?

Ini sesuatu yang menarik karena orang sering menyangka kita harus investasi besar untuk membuat fasilitas biomassa. Padahal kita ini bekerja sama dengan partner. Jadi mereka yang investasi. Itu yang selalu kami share dengan perusahaan lain, bahwa kami tidak selalu menggunakan capital expenditure

Jadi sebenarnya kalau kita bicara perjalanan net zero ini yang kita observasi sendiri adalah perlunya kreativitas. Karena ini bisa dibilang teknologi berkembang sangat cepat dan tiba-tiba ada yang baru. Tentunya kalau orang mau invest harus ada untungnya and at the same time kita juga bisa dapat manfaat dari target net zero. Menjalin sinergi itu yang memang butuh kreativitas dan kolaborasi.

Sebetulnya untuk langkah awal yang perlu kita buat adalah memetakan dulu apa energi yang kita butuhkan, karena energi itu bukan cuma listrik. Ada banyak industri yang membutuhkan energi panas misalnya, yang sebetulnya tidak butuh listrik. 

Artinya di awal tidak ada capital expenditure?

Ada sih tetap. Sebelum dipasang panel surya kan rooftop harus dipersiapkan dulu dan diperkuat dan itu enggak murah juga. Maintenance-nya mungkin ditangani oleh vendor. Sama kayak biomassa ada juga yang harus kita investasikan, lahan misalnya.

Bagaimana perbedaan biaya produksi dengan penggunaan EBT, apakah bertambah atau berkurang?

Kalau terkait dengan biaya enggak bisa langsung ditentukan. Tapi kalau mau membandingkan lebih mahal mana, itu tidak absolut. Di tahap awal pasti sangat terasa karena banyak banget yang harus disiapkan. Tapi in the long run, ini lebih ngomongin sustainability dan durability-nya bahwa ini lebih jauh bertahan. 

Jadi kalau ngomongin biaya, bayangin aja 30 tahun lagi aja kita belum tentu survive, kita bicarakan bumi ya. Bahkan kita tahu 2040 sebagian Jakarta akan tenggelam, krisis air akan terjadi dan itu kalau tidak dicegah pasti jadi lebih cepat. Ketika sudah terjadi krisis energi, kebayang enggak betapa mahalnya itu nanti. 

Buat kita I think it’s a right thing to do and it’s worth it to do karena in a long run bisa menjadi lebih murah. Jadi kalau semua orang melangkah ke arah yang sama, itu yang menjadi drive buat MLBI.  

Terkait dengan emisi karbon, apa saja penyumbang emisi terbesar di MLBI?

Ketika bicara emisi ada di proses produksi dan rantai pasok. Misalnya kalau di produksi, proses brewing atau pemasakan itu besar sekali. Selanjutnya pendinginan, filtrasi, lalu masuk ke packaging. Oleh  karena itu kita sekarang pakai biomassa untuk brewing bir kami. Fokus kami adalah net zero emission di 2030 untuk produksi, kemudian 2040 untuk lini lainnya. 

Grafik:

Bagaimana langkah mengurangi emisi di lini produksi?

Pertama kita petakan dulu energinya pakai apa dan di mana saja. Dari situ kita bisa monitoring energy dan water organization. Kedua itu tidak bisa dipisahkan karena ketika kita efisiensi air sama dengan efisiensi energi. Setelah kita tahu menggunakan energi termal maka kita replace ke biomassa dan biogas. 

Apakah MLBI punya rencana masuk carbon trading?

Kembali ke 4R tadi reduce, replace, remove, dan report. Itu akan kita lakukan dan kalau tidak ada yang bisa kita lakukan lagi baru masuk ke renewable certificate. Soalnya prioritas utama kan kita pengen transisi ke energi hijau untuk mengurangi emisi. Carbon offset yang salah satunya opsinya renewable energy certificate, itu yang terakhir. Kalau ditanya apakah kita akan membeli atau menjual karbon, kita tidak menentang tetapi itu belum menjadi prioritas. Karena sebegitu kompleks tantangannya makanya kita harus fokus one step at a time, jadi belum kepikiran beli karbon karena masih tahap replace. Jualan pun belum, karena belum ada yang bisa dijual saat ini, tapi kita enggak against itu.

Apa harapan MLBI untuk pemerintah terkait target net zero emission?

Harapannya banyak. Ini enggak mudah karena hal baru. Dari pemerintah yang akan sangat membantu tentu dari sisi regulasi. Selama ini sudah banyak sebetulnya regulasi yang dikeluarkan. Banyak orang ingin melakukan hal baik tetapi kalau dikerjakan tanpa ada pemerintah di enabler regulasi susah juga. Payung hukum dan panduan teknis itu yang memang consumer centric supaya kebutuhan industri didengarkan. Ke depannya harapannya agar pemerintah memudahkan itu.

Kalau soal insentif, nanti pemerintah akan merasakan juga. Pemerintah kan ada target berapa persen yang ingin dicapai, carbon net 2060. Kalau dikerjakan bareng, semua interestnya tergabung jadi satu dan kalau disadari oleh berbagai pihak dan akan jadi simbiosis mutualisme dan mudah-mudahan menjadi semakin cepat sih.

Mungkin sebagai praktisi dari bidang sustainability berharapnya begini. Belajar dari pengalaman kita, bikin target dan roadmap-nya gampang lah ya. Tapi yang orang enggak sering lanjutin adalah apa aja yang harus dilakukan. 

Harapan saya sustainability pemerintah itu juga punya roadmap yang enggak cuma bilang 2023 akan segini, tapi mau ngapain? Jadi supaya swasta yang punya target yang sama, dia juga tahu bakal ada ini di tahun ini. Memang saya banyak mendengar tapi bentuknya masih belum official. Misalnya Presiden Jokowi akan mengganti PLTU, lalu akan diapakan. 

Pemerintah menunda implementasi pajak karbon, ada tanggapan soal ini?

Kalau pajak karbon sendiri sebagai warga korporasi dan warga Indonesia, apapun yang ditetapkan pemerintah akan kita ikutin. Kita akan comply kalau ada seperti itu. Cuma kalau ditanya seperti apa kita berharap banget diajak untuk diskusi, siapa tahu bisa memberi masukan. 

Selain itu juga yang paling penting lagi adalah bagaimana ini intensi dari pajak karbon dilaksanakan dengan baik. Intensi pajak karbon itu kan supaya ada transisi. Bagaimana kalau ada perusahaan yang enggak mau transisi tetapi memilih bayar pajak karbon aja bagaimana? Intensinya penting dan memastikan apakah implementasinya menuju ke sana.

Pajak karbon sendiri bukan hal baru, sudah diterapkan di berbagai negara. Tapi yang menjadi pertentangan kan industri, kesiapannya berbeda-beda dengan pajak lagi, jadi cost production-nya jadi makin mahal. 

Sampai saat ini pemerintah belum menetapkan carbon cap untuk masing-masing industri, pernah diajak diskusi soal itu?

Belum pernah, tapi ada ngobrol di beberapa forum. Tapi bila kita enggak diundang, bukan berarti yang lain nggak diundang. Mungkin lewat asosiasi.

Hanya itu tadi ketika intensinya benar, prosesnya pasti benar. Setiap proses itu beda jenis industri, beda lagi. Ketika prosesnya benar, mudah-mudahan benar juga menentukan pricing, proses, atau mekanismenya.

Reporter: Amelia Yesidora
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait