Ekonom Bank Mandiri Sarankan BI Naikkan Suku Bunga Acuan

"Supaya jangan sampai muncul risiko tambahan. Maka, kami pikir sebaiknya naikin suku bunga. Karena toh nantinya suku bunga memang harus naik," kata Anton
Image title
17 Mei 2018, 18:30
Bank Mandiri
KATADATA
Bank Mandiri

Ekonom Bank Mandiri menyarankan agar Bank Indonesia (BI) menaikan tingkat suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini. Saat ini tingkat suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate sebesar 4,25 persen.

"Supaya jangan sampai muncul risiko tambahan. Maka, kami pikir sebaiknya naikin suku bunga. Karena toh nantinya suku bunga memang harus naik," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan di Plaza Mandiri, Jakarta pada Kamis (17/5). Apalagi, Amerika Serikat juga menaikkan suku bunganya.

Bank sentral AS, The Fed, menaikkan tingkat suku bunga acuan atau Fed Fund Rate (FFR)  pada kisaran 1,5 persen hingga 1,75 persen. Kenaikan FFR ini membuat dolar AS menguat yang juga membuat kenaikan yield US treasury hingga ke level 3 persen. Fenomena tersebut memberikan dampak kepada nilai tukar mata uang terutama pada negara berkembang.

(Baca: Tahan Rupiah Melemah, Ini Saran Ekonom Soal Besaran Kenaikan Bunga BI)

Advertisement

Ketidakpastian dari global ini membuat investor melakukan pergeseran dari dana yang ditanamkan di pasar negara berkembang dan dialihkan ke tempat yang lebih aman di Amerika Serikat. Dalam situasi itu tentunya mereka akan memilah negara berkembang mana yang lebih berisiko.

"Itu yang kami lihat kenaikannya (tingkat suku bunga acuan) 25 bps, lebih kepada memberikan sinyal bahwa faktor risikonya diperkecil," ujar Anton

Selain itu, BI juga perlu memperhitungkan semakin melebarnya defisit transaksi berjalan (Current Acount Defisit/CAD) dengan pelemahan rupiah. Namun, BI memang masih optimistis CAD masih bisa dijaga di kisaran 2,1 persen sampai 2,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurutnya, CAD adalah hal yang perlu diperhatikan karena bisa menjadi titik risiko. Dia memperkirakan gejolak CAD di kuartal II bisa lebih tinggi dari 2,5 persen, seiring banyaknya perusahaan yang membayarkan dividen. Namun, dia juga menilai yang lebih penting untuk dijaga adalah fundamental jangka panjang.

"Walupun in relatif term, fundamental kita masih lebih baik, tapi di sana ada titik risiko," katanya menambahkan.

Dari sisi inflasi, Anton masih percaya pemerintah bisa menjaga di angka stabil dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan. Namun, Pemerintah tetap harus memperhatikan harga komoditas yang berangsur-angsur naik dan dapat mempengaruhi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Apabila kenaikan harga komoditas ini tidak berdampak pada subsidi di APBN, masih relatif lebih aman. Masalahnya, ada beban yang akan dilimpahkan ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti PT Pertamina dan PLN. "Itu yang perlu dicermati," kata Anton.

Anton memperkirakan, inflasi tahun ini berada pada level 4 persen dengan catatan belum memasukan perubahan dalam sisi administered price. Seperti, harga bahan bakar minyak (BBM) di mana harga minyak dunia yang terus naik menjauhi asumsi makro dalam APBN sebesar US$ 48 per barel.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait