Setelah euforia subsidi berakhir, pasar kendaraan listrik Indonesia kini diuji apakah mampu bertahan sebagai kebutuhan nyata atau hanya sekadar tren diskon.
Emiten kendaraan listrik milik Grup Bakrie, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), bersama Karoseri Laksana mulai menguji coba bus listrik 12 meter di Koridor 1 Trans Semarang.
PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON) berencana memperluas portofolio bisnis ke sektor infrastruktur kendaraan listrik. Ekspansi ini mencakup pengembangan SPBKLU dan SPKLU.
Tanpa standardisasi steker dan soket, kendaraan listrik berisiko tidak kompatibel dengan stasiun pengisian daya yang tersedia. Risikonya akan lebih terasa saat digunakan untuk berkendara jarak jauh.
Produsen kendaraan listrik harus memperhatikan pasokan energi dalam rantai pasoknya agar tidak merusak komitmen pengurangan emisi karbon yang telah dijanjikan.
Berakhirnya sejumlah stimulus fiskal diperkirakan mendorong kenaikan harga mobil listrik hingga 100%. Kendati demikian, pemerintah tetap optimistis kontribusi penjualan kendaraan listrik akan naik.
Sejumlah raksasa otomotif memangkas investasi di bisnis kendaraan listrik menyusul penghapusan insentif pembelian dan kemungkinan perubahan besar-besaran aturan emisi.
Pemerintah mengingatkan dapat menarik bank guarantee investor jika realisasi investasi pabrik kendaraan listrik atau EV tidak terjadi, termasuk pabrikan asal Cina, BYD.
TRON memperluas bisnis ke stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPBKLU) serta aktivitas pengoperasian fasilitas atau stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).