Indosat Resmikan Laboratorium Teknologi Digital di 10 Perguruan Tinggi

Indosat Ooredoo membuat wadah kolaborasi dan pengembangan ide berbasis internet of things (IoT) untuk mendorong ekonomi.
Michael Reily
18 Maret 2019, 13:48
Indosat
Arief Kamaludin|KATADATA
Indosat Ooredoo meluncurkan Future Digital Economy Lab bekerja sama dengan 10 perguruan tinggi.

Indosat Ooredoo meluncurkan Future Digital Economy Lab sebagai wadah persiapan sumber daya manusia dalam revolusi industri 4.0. Program kerja sama dengan 10 perguruan tinggi nasional ini bertujuan mengoptimalkan insfrastruktur digital dan penguasaan teknologi generasi muda.

Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Chris Kanter mengatakan, perusahaan membuat wadah kolaborasi dan pengembangan ide berbasis internet of things (IoT) untuk mendorong ekonomi. "Kami ingin membangun sistem ekonomi digital yang menjadi penghubung bagi para stakeholder," kata Kanter di Jakarta, Senin (18/3).

Lewat sambungan video streaming, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto turut meresmikan Future Digital Economy Lab di Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam waktu yang bersamaan.

Peresmian ini juga diikuti penandatanganan kerja sama dengan sembilan universitas lainnya, yaitu Universitas Bina Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya, Universitas Atma Jaya, Universitas Trilogi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas, President University, Universitas Prasetiya Mulya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Udayana.

(Baca: Indosat Luncurkan Satelit untuk Penyiaran pada 2020)

Kanter menjelaskan, Indosat konsisten untuk menyediakan infrastruktur digital seperti konektivitas, layanan ICT, platform, serta aplikasi sesuau tren perkembangan. Dengan harapan, pelaku usaha mampu mengadaptasi evolusi teknologi. "Semoga program dalam laboratorium ini menghasilkan karya berkualitas untuk menjawab masalah di lapangan," ujar Kanter.

Dia mengungkapkan, Future Digital Economy Lab bisa menjadi tempat pengujian beragam perangkat internet of things dan sandbox untuk sertifikasi. Selain itu, laboratorium ini juga menjadi tempat menghasilkan properti intelektual anak negeri.

Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia akan memiliki bonus demografi pada tahun 2030 serta ada kesempatan untuk mendapatkan transaksi sebesar US$ 250 miliar pada tahun 2025. Apalagi, sudah ada empat unicorn nasional, serta 5 dari 7 unicorn di Asia Tenggara beroperasi di wilayah Tanah Air.

Karena itu, Kementerian Perindustrian mendorong peningkatan kesesuaian pekerjaan antara perusahaan dan sekolah vokasi. "Implementasi ekonomi digital bisa memicu tambahan, lapangan kerja, dan pengembangan industri," ujarnya.

(Baca: Indosat Cari Pendanaan Melalui Surat Utang hingga Rp 10 Triliun)

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menuturkan, perusahaan harus mulai mengarahkan transaksi dari product-based menjadi knowledge-based. Alasannya, teknologi menjadi salah satu faktor pemicu penting dalam perubahan tren gaya hidup masyarakat.

Dia menjelaskan, teknologi juga mampu meningkatkan kapasitas industri dengan peningkatan efisiensi, contohnya dalam perbankan. Notifkasi pengumuman rekening pada produk berubah jadi lebih konstektual, bahkan penggunaan Artificial Inteligence bisa mendorong konsumsi masyarakat. "Sehingga, teknologi harus mengarah kepada banyak sektor," kata Rudiantara.

Reporter: Michael Reily
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait