APMI: Utang Perusahaan Migas ke Jasa Pengeboran Hampir US$ 300 Juta

Asosiasi berharap kontraktor migas dapat bersikap adil terhadap mitranya, termasuk penyedia jasa pengeboran minyak.
Image title
Oleh Verda Nano Setiawan
12 November 2020, 18:19
Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas, dan Panas Bumi Indonesia, APMI, SKK Migas, pengeboran minyak
skkmigas.go.id
APMI mencatat jumlah piutang perusahaan pengeboran minyak ke sejumlah perusahaan migas mencapai US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,25 triliun

Jumlah piutang perusahaan pengeboran minyak ke sejumlah perusahaan migas saat ini hampir mencapai US$ 300 juta atau sekitar Rp 4,25 triliun. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas, dan Panas Bumi Indonesia (APMI) Wargono Soenarko merasa selama ini kontraktor kontrak kerja sama atau KKKS tidak bersikap adil terhadap jasa pengeboran minyak.

Berbagai persoalan sering terjadi di lapangan hingga tak kunjung selesai. "Contohnya, banyak anggota kami yang sudah bekerja baru dibayar. Banyak tumpukan piutang itu, hampir US$ 300 juta yang sampai sekarang belum dibayar," kata dia dalam diskusi Forum APMI, Kamis (12/11).

Dia pun berharap supaya KKKS bersikap adil dengan mitra. Salah satunya dengan menghapus kontrak on call basis atau sesuai panggilan. Badan usaha milik negara atau BUMN yang tergabung dalam APMI juga perlu mengajak perusahaan jasa pengeboran swasta untuk bekerja sama. Pasalnya, bisnis sektor ini sedang sempoyongan akibat pandemi Covid-19 dan turunnya harga minyak mentah dunia.

Menanggapi hal itu, Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Suardin berharap kedua belah pihak dapat mencari solusi yang terbaik dari segi bisnis. "Kalau ada masukan atau kasus khusus, mohon kontak saya supaya kami bisa ikut membantu. Bisnis harus win win bukan zalim," kata dia.

VP Drilling & Well Intervention Pertamina Hulu Energi Anto Sunaryanto mengatakan pihaknya bersedia berdiskusi lebih lanjut untuk membahas persoalan itu. "Mungkin perlu diskusi lebih lanjut soal ini,” ucapnya.

Sejak pandemi corona terjadi pada awal tahun ini, harga minyak mentah dunia langsung anjlok karena konsumsi bahan bakar melemah. KKKS pun mulai mengurangi kegiatannya. Langkah efisiensi tersebut lalu berdampak pula ke industri penunjang migas, seperti perusahaan jasa konstruksi dan pengeboran.

SKK Migas dan IPA Sepakat Jaga Iklim Investasi

SKK Migas dan Indonesia Petroleum Association alias IPA kemudian sepakat menjaga iklim investasi dengan menghindari pemutusan sepihak kontrak-kontrak pengadaan yang sudah berjalan. Pelaksana Tugas Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Susana Kurniasih sebelumnya menyebut banyak perusahaan yang saat ini berdarah-darah menghadapi penurunan harga minyak

Kesepakatan dengan IPA merupakan salah satu upaya agar pengadaan barang dan jasa dapat berjalan lancar. Harapannya, program kerja dan anggaran (WP&B) 2020 yang telah disepakati SKK Migas bersama KKKS tetap terealisasi. “Kami mengusahakan agar kegiatan KKKS tetap berjalan supaya industri penunjang pun mendapat pekerjaan," ucap Susana.

Kepala Divisi Pengelolaan Pengadaan Barang/Jasa SKK Migas Erwin Suryadi mengatakan kondisi saat ini tidak mudah. Namun kegiatan migas harus tetap berjalan untuk mendukung perekonomian nasional.

SKK Migas berharap para kontraktor kontrak kerja sama atau KKKS mencari terobosan apabila menemukan kesulitan di lapangan. "Kami tidak hanya sekadar mendorong partisipati aktif, juga pro-aktif mencari solusi terhadap kesulitan-kesulitan yang dihadapi KKKS di lapangan,” kata Erwin beberapa waktu lalu.

Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan KKKS agar work, program and budget (WPnB) 2020 yang telah disepakati dapat berjalan. Lalu, target produksi siap jual atau lifting migas dalam perubahan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2020 dapat terealisasikan.

Target lifting tahun ini adalah 705 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan 5.556 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Pada 2021, target lifting minyak tak berubah. Untuk gas sedikit naik menjadi 5.638 juta standar kaki kubik per hari.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait