Produksi Feronikel Aneka Tambang Terkerek Naik Sepanjang 2020

Antam mencatat produksi feronikelnya naik 7% pada kuartal empat 2020 dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi 6.837 ton nikel.
Image title
21 Januari 2021, 16:40
aneka tambang, nikel, pertambangan, produksi antam, antm
ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Ilustrasi. PT Aneka Tambang Tbk mencatat kenaikan produksi dan penjualan pada tahun lalu.

PT Aneka Tambang Tbk mencatat kenaikan produksi dan penjualan pada tahun lalu. Dalam laporan yang belum diaudit atau unaudited, pada triwulan keempat 2020 perusahaan mencatat produksi feronikelnya naik 7% dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi 6.837 ton nikel (TNi).

Capaian penjualannya naik 2% menjadi 6.639 ton nikel. Secara akumulasi capaian produksi dan penjualan perusahaan berkode efek ANTM itu sepanjang 2020 masing-masing 25.970 ton nikel dan 26.163 ton nikel. “Antam kembali mencatat capaian tertinggi kinerja produksi feronikel di 2020,” tulis Sekretaris Perusahaan Kunto Hendrapawoko, Kamis (21/1). 

Seiring tumbuhnya investasi emas di kalangan masyarakat, perusahaan akan fokus memperkuat basis logam mulia. Penjualannya pada triwulan empat lalu mencapai 6.921 kilogram. 

Produksinya dari tambang Pongkor dan Cibaliun, Jawa Barat, sebesar 388 kilogram. Secara total di 2020 produksi dan penjualan emasnya masing-masing 1.672 kilogram dan 21.797 kilogram. 

Untuk produksi bijih nikel, pada kuartal empat lalu tercatat tumbuh 28% dibandingkan triwulan tiga 2020. Angkanya di 1,9 juta wet metrik ton (wmt). Penjualannya naik dari 1,04 juta wet metrik ton menjadi 2,09 juta wet metrik ton.

Pada segmen bauksit, Antam mencatatkan volume produksi bauksit unaudited pada kuartal empat tahun lalu mencapai 255 ribu wet metrik ton. Angka penjualannya mencapai 276 wet metrik ton. 

Proyek Pabrik Baterai

Antam saat ini sedang menggarap pabrik baterai dengan perusahaan pelat merah lainnya, termasuk induk usahanya, MIND ID (Inalum). Dua badan usaha milik negara atau BUMN yang terlibat dalam proyek ini adalah Pertamina dan PLN.  

LG Energy Solution asal Korea Selatan akan berinvestasi sebesar US$ 9,8 miliar atau sekitar Rp 138 triliun untuk pabrik tersebut. “Belum pernah ada investasi pasca-Reformasi sebesar ini,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dalam konferensi pers akhir bulan lalu.

Ada perusahaan Negeri Ginseng lain yang terlibat, termasuk Hyundai. Dengan begitu, pemerintah menargetkan pembangunan pabrik baterai lithium-ion tersebut akan terintegrasi dari hulu hingga hilir. “Ini pertama di dunia, ada tambang, smelter (pabrik pemurnian), produksi baterai, mobil listrik, hingga recycle-nya,” ujarnya.

Lalu, produsen baterai asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), bakal menggelontorkan investasi senilai US$ 5 miliar. Angkanya sekitar Rp 71 triliun untuk merealisasikan pembangunan pabrik baterai lithium-ion tersebut. 

CATL telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk alias Antam. Perusahaan pelat merah ini akan memasok bahan baku pembuatan baterainya. Sebagai gantinya, CATL memastikan 60% proses pemurnian nikelnya, bahan baku baterai, dikerjakan di Indonesia.

 

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Sorta Tobing

Video Pilihan

Artikel Terkait