Harga minyak dunia melonjak setelah gangguan pada pipa minyak utama di Arab Saudi dan ladang minyak di Libya menambah risiko di pasar, yang sudah merasakan dampak berkurangnya pasokan akibat perang
Harga minyak acuan dunia melonjak ke angka US$ 107 per barel setelah Arab Saudi menutup pipa minyak mentah utamanya pasca serangan. Penutupan ini memperparah krisis energi global
Ketegangan AS-Iran dorong harga minyak dan tekanan pada Rupiah, menjadi ujian pertama bagi Gubernur BI Destry Damayanti untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel mengancam ekonomi Asia, memperbesar tekanan inflasi dan beban subsidi, di tengah ruang fiskal pemerintah yang kian terbatas.
Harga minyak acuan dunia Brent mencapai US$ 108 per barel. Hal ini terjadi setelah pertempuran antara kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan pasukan yang didukung Arab Saudi semakin intensif.
Purbaya menyatakan, anggaran yang dimiliki untuk subsidi masih mencukupi dan masih dalam perhitungan pemerintah meski harga minyak kini menyentuh US$ 101 per barel.
Harga minyak acuan dunia, Brent bertengger di US$ 101 per barel usai Iran menyatakan siap menghadapi perang yang lebih intensif. Pernyataan tersebut disampaikan setelah perang AS-Iran kembali pecah
Harga minyak dunia melonjak mendekati US$ 100 per barel setelah serangan AS ke kapal tanker Iran memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz.