Saling Salip Gojek dan Grab Berebut Pasar Keuangan di Asia Tenggara

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Muchamad Nafi

27/7/2019, 07.00 WIB

Gojek dan Grab saling berkejaran dalam bisnis layanan. Setelah menjadi superapp, keduanya membidik pasar keuangan Asia Tenggara yang besar.

Ilustrasi digital
123rf

“Sekaranglah evolusi Go-Pay dan layanan keuangan.”

Sepenggal kutipan itu disampaikan Bos Gojek Nadiem Makarim saat mengumumkan logo baru perusahaan. Senin kemarin (22/7), PT Aplikasi Karya Anak Bangsa resmi mengubah ikon pengemudi motor bersinyal menjadi sebuah cincin berrongga dengan bulatan di tengahnya.

Bagi Nadim, langkah tersebut bukan hanya soal mengganti gambar Gojek. Ini adalah penanda evolusi dari penyedia jasa layanan ojek online menjadi superapp. Dan satu di antara jasa yang akan ditingkatkan yaitu layanan finansial. Gojek memang berhasrat meningkatkan inklusi keuangan di Asia Tenggara, langkah yang juga ditempuh pesaingnya, Grab.

Menengok ke belakang, hampir dua tahun terakhir Gojek memfokuskan pada pengembangan Go-Pay. Hal itu terlihat dengan aksi akuisisi terhadap tiga startup layanan teknologi keuangan lokal, yakni Kartuku, Midtrans, dan Mapan pada akhir 2017.

Nadiem lalu mengangkat pendiri Mapan, Aldi Haryopratomo, sebagai CEO Go-Pay. Aldi dan Nadiem sama-sama alumni Universitas Harvard. “Misi kami sama, membangun Indonesia dari bawah,” kata Aldi dalam wawancara khusus dengan Katadata.co.id, awal tahun ini.

Ia memiliki pengalaman panjang dalam mengembangkan usaha keuangan ekonomi mikro. Pada 2009, Aldi membangun startup RUMA atau Rekan Usaha Mikro Anda untuk menjangkau pedagang kecil yang berjualan pulsa listrik, telepon seluler, hingga layanan cicilan kredit. Dari tangannya pula lahir Arisan Mapan yang memiliki lebih dari 2,3 juta pengguna.

(Baca: Sambut Logo & Atribut Baru Gojek, Mitra Pengemudi: Jaket Sudah Jelek)

Saat ini, menurut Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Ignatius Untung, perusahaan layanan on-demand seperti Gojek dan Grab berpeluang besar menggaet pasar keuangan di Indonesia. Satu syarat telah terpenuhi. Kedua decacorn ini memiliki mitra yang tersebar luas di nusantara.

Selain itu, Gojek dan Grab menyediakan beragam layanan yang digunakan sehari-hari seperti transportasi atau berbagi tumpangan (ride-hailing), pesan-antar makanan, bayar tagihan, dan lainnya. “Layanan keuangan tidak akan dipakai kalau tidak tahu digunakan di mana. Akan bagus kalau bisa dimanfaatkan rutin,” kata dia kepada Katadata, Selasa (23/7).

Sektor keuangan merupakan pasar potensial karena masih banyak penduduk di Indonesia yang belum memperoleh akses ke perbankan ataupun layanan finansial lainnya (Lihat Databoks di bawah). Karena itu, Gojek dan Grab bisa menggarap pasar ini untuk memperoleh untung.

Apalagi, kedua startup bervaluasi lebih dari US$ 10 miliar tersebut sudah memperluas pasar lewat beragam layanannya. Karena itu, ojek online bisa menjadi batu loncatan untuk mendapat konsumen. Dengan begitu, peluang Gojek dan Grab menyediakan layanan keuangan diprediksi lebih mudah.

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) menyambut baik partisipasi Gojek dan Grab dalam menggarap pasar keuangan ini. “Kehadiran teknologi akan menguntungkan masyarakat luas, karena produk yang lebih variatif. Yang penting, perusahaan tersebut selalu mematuhi peraturan dan mengedepankan perlindungan konsumen,” kata Direktur Aftech Tassa Nugraza Barley.

Siasat Gojek Menggaet Pasar Keuangan

Di Indonesia, Gojek memiliki Go-Pay. Perusahaan teknologi finansial (fintech) ini sudah menggaet lebih dari 400 ribu mitra Go-Food dan 60 ribu penyedia layanan melalui platform Gojek.

Go-Pay melayani beragam pembayaran, mulai dari e-commerce, pulsa, bayar tagihan, asuransi, hingga donasi. Pengguna Go-Pay mencapai 155 juta, atau sesuai dengan jumlah unduhan aplikasi Gojek. Hingga saat ini, Gojek belum berencana memisahkan Go-Pay dari platform-nya.

Nadiem sempat menyampaikan, total transaksi (Gross Transaction Value/GTV) di platform-nya mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 126 triliun pada 2018. Pencapaian itu naik 13,5 kali dibanding 2016.

Head of Corporate Communication Go-Pay Winny Triswandhani mengatakan, sekitar setengah dari transaksi di platform Gojek menggunakan layanan pembayaran dari Go-Pay. Transaksi di luar layanan aplikasi Gojek juga tercatat tumbuh 25 kali sepanjang tahun lalu.

(Baca: JK Dukung Digitalisasi Donasi ke Masjid Lewat Gopay)

Go-Pay juga bekerja sama dengan lebih dari 300 yayasan dan masjid untuk menyediakan layanan donasi digital. “Donasi melalui Go-Pay naik 400 kali dari Juli 2018 hingga Juni 2019,” kata Winny.

Yang terbaru, Gojek menggandeng perusahaan asuransi teknologi alias insurance technology (insurtech), Pasar Polis untuk merilis Go-Sure. Fitur itu hadir dalam versi beta dan baru menawarkan produk asuransi perjalanan kepada pengguna.

Pada 2017, kedua perusahaan ini juga meluncurkan layanan asuransi untuk mitra pengemudi yang diberi nama Go-Proteksi. Agustus tahun lalu, PasarPolis memperoleh pendanaan seri A dari Gojek, Traveloka, dan Tokopedia.

 

Hingga kini, Gojek belum menyediakan layanan pinjaman kepada konsumen di platform-nya. Namun, Gojek menggandeng fintech pinjaman (lending) PT Mapan Global Reksa (Findaya) untuk menyediakan layanan cicilan (paylater).

Di Thailand, Gojek beroperasi dengan nama GET dan menawarkan layanan dompet digital GetPay. Pengguna bisa mengisi ulang (top-up) melalui akun Kasikornbank Pcl dan Siam Commercial Bank (SCB).

Gojek pun memperoleh suntikan dana dari SCB. Bloomberg memberitakan, berdasarkan informasi seorang sumber, kemitraan antarkedua perusahaan bertujuan untuk membantu Gojek mengembangkan layanan keuangannya.

Decacorn Tanah Air itu juga baru saja mendapat dana segar dari perusahaan pembayaran asal Amerika Serikat (AS), Visa. Investasi tersebut masuk dalam putaran pendanaan seri F yang tengah digalang Gojek. Tanpa merinci besaran investasi yang diperolehnya, Gojek berencana menggunakan dana segar itu untuk mempercepat pertumbuhan layanan pembayaran di Asia Tenggara.

Sebagai bagian dari kesepakatan, Go-Pay akan bekerja sama dengan Visa untuk menyediakan lebih banyak opsi pembayaran di Asia Tenggara. Kedua perusahaan menilai potensi pasar regional sangat besar. Ada banyak penduduk dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang tidak memiliki rekening bank (unbanked) atau belum terlayani (undeserved).

Di Filipina, Gojek memang belum bisa hadir karena ada hambatan dari sisi regulasi. Namun, startup bervaluasi lebih dari US$ 10 miliar itu berinvestasi ke penyedia layanan dompet digital lokal berbasis blockchain, Coins.ph. Dengan begitu, Go-Pay diharapkan bisa lebih dulu beroperasi di negara itu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha