Lampu Kuning Utang Korporasi di Tengah Ancaman Resesi Dunia

Penulis: Sorta Tobing

Editor: Sorta Tobing

8/10/2019, 06.00 WIB

Kasus kredit macet Krakatau Steel dan Duniatex Group mulai terasa imbasnya ke kinerja perbankan.

Telaah-Kredit
123rf.com/Aleksandr Elesin
Kasus gagal bayar utang atau kredit macet korporasi mulai membayangi kinerja perbankan dan perekonomian nasional. Lembaga internasional mengingatkan Indonesia agar tidak mengulangi krisis ekonomi 1997.

Sementara, Duniatex Group masih dalam proses pembahasan untuk merestrukturisasi utangnya dengan LPEI dan Himpunan Bank Negara (Himbara). Saat ini perusahaan yang bergerak di industri tekstil itu sudah masuk proses penundaan pembayaran utang (PKPU).

“Kami dengan Himbara sedang berdiskusi karena ada aspek-aspek yang sifatnya keberlangsungan ekonomi supply chain yang bergantung pada industri ini," ujar Direktur Eksekutif LPEI, Sinthya Roesly pada Jumat lalu.

Pihaknya berkomitmen mencari skema penyelesaian terbaik bagi Duniatex Group agar tidak berimbas pada industri tekstil. "Saya tidak bisa cerita seperti apa. Banyak pihak yang terlibat, akan ada skema dengan perbankan lainnya. Dan bagaimana industri ini tidak jatuh," katanya.

Duniatex merupakan salah satu produsen tekstil terbesar di Indonesia. Pabrik-pabriknya berlokasi di sejumlah daerah di Jawa Tengah dengan karyawan mencapai sekitar 45 ribu orang. LPEI alias Eximbank sudah menyalurkan pembiayaan kepada Duniatex Group sejak 2007. Total pinjamannya saat ini mencapai Rp 3,04 triliun.

Total dana tersebut dibagi dalam beberapa bagian, seperti Rp2,12 triliun untuk kredit modal kerja (KMK) pinjaman jangka pendek, Rp755,88 miliar untuk pinjaman jangka panjang, serta Rp173,19 miliar untuk porsi jangka pendek dari pinjaman bank jangka panjang.

Kalau dihitung secara keseluruhan, total utang Duniatex Group ke berbagai bank, termasuk utang obligasi, mencapai lebih Rp 18 triliun.

(Baca: Menimbang Prospek Bisnis Duniatex di Tengah Belitan Utang)

Kecuali BCA, Saham Perbankan Turun

Kredit macet korporasi sebenarnya juga sudah tercermin dari rasio kredit bermasalah (non performing ratio) perbankan yang mulai naik pada Juni-Agustus 2019. Kenaikannya terlihat pada grafik Databoks berikut ini.

Pada Juni 2019, NPL bruto industri perbankan berada di level 2,5% kemudian naik 0,5% pada Juli 2019 menjadi 2,55%. Terakhir, pada Agustus 2019 NPL bruto kembali naik menjadi 2,6%.

Di saat yang sama, penyaluran kredit perbankan pada Agustus lalu hanya tumbuh 8,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit ini pun melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Perlambatan terjadi pada semua golongan debitur, termasuk korporasi maupun perseorangan. Sektor yang terkena imbas, yaitu perdagangan hotel, restoran, dan industri pengolahan.

Gara-gara laporan Moody's, plus deretan data perbankan yang kurang menggembirakan, dalam seminggu terakhir pergerakan saham bank cenderung turun. Hanya BCA saja yang naik sendirian. Besar kemungkinan karena investor melihat pengelolaan risiko kreditnya masih baik. Paling tidakexposure­ BCA dari utang Krakatau Steel sangat kecil dan bebas dari kredit macet Duniatex Group.

(Baca: Harga Saham Bank BUMN Rontok Akibat Melambatnya Kredit pada Agustus)

 

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha