Nilai Ekspor CPO Indonesia Naik 3,7% pada 2022, Namun Volume Turun

Tia Dwitiani Komalasari
19 Januari 2023, 17:03
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022).
ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/rwa.
Sejumlah truk pengangkut Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mengantre untuk pembongkaran di salah satu pabrik minyak kelapa sawit milik PT.Karya Tanah Subur (KTS) Desa Padang Sikabu, Kaway XVI, Aceh Barat, Aceh, Selasa (17/5/2022).

Nilai ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sepanjang 2022 naik 3,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, volume ekspor CPO 2022 tercatat turun tipis secara year on year atau yoy.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor CPO mencapai US$ 27,76 milar pada 2022. Angka tersebut naik 3,7% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$ 26,75 miliar. Nilai ekspor tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan 2017 yang mencapai US$ 18,5 miliar.

Sementara volume ekspor CPO 2022 mencapai sebesar 25 juta ton.Angka tersebut turun dibandingkan volume ekspor CPO 2021 mencapai 25,6 juta ton. Volume eskpor tersebut makin turun dibandingkan 2017 yang mencapai 27,3 juta ton.

Harga CPO

Meskipun volumenya semakin turun, namun nilai ekspor masih mengalami kenaikan. Itu berarti, kenaikan nilai ekspor lebih banyak ditopang peningkatan harga CPO global

Dikutip dari Investing.com, harga CPO di Pasar Spot Rotterdam ditutup US$ 1.030 per metrik pada penutupan perdagangan Desember 2022. arga CPO sempat menyentuh level tertingginya US$ 2.010 per Metrik Ton yang terjadi pada Rabu, 09 Maret 2022.

Sementara volume ekspor CPO  turun akibat adanya kebijakan ekspor CPO dan sawit lainnya pada 28 April 2022 hingga 23 Mei 2022. Kebijakan tersebut untuk menekan harga minyak goreng dalam negeri yang melambung tinggi.

Larangan ekspor minyak sawit mentah atau CPO tersebut ternyata berdampak signifikan pada petani kelapa sawit. Tandan buah segar atau TBS yang mereka panen tidak diserap industri yang setop berproduksi. Harga TBS pun anjlok meskipun pemerintah telah mencabut kembali larangan ekspor sebulan kemudian.

Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia, gulat Manurung, mengatakan bahwa kerugian petani mencapai Rp 14 triliun akibat penerapan kebijakan larangan ekspor CPO.

 Ekspor ke Uni Eropa Diprediksi Turun

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki  Fadhil Hasan menyatakan bahwa ekspor produk kelapa sawit Indonesia ke Uni Eropa terus turun setiap tahunnya. Ekspor sawit tersebut akan terus turun akibat kebijakan Uni Eropa yang melarang impor CPO hasil deforestasi hutan.

Fadhil mengatakan ekspor ke Uni Eropa sebelumnya sudah turun setelah adanya RED II dan tudingan subsidi. Dengan adanya aturan deforestasi, ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa aka semakin turun.

"Sekarang saja ekspor ke Uni Eropa 4 juta kilo liter dari biasanya 5 juta kilo liter," ujarnya kepada Katadata.co.id, Sabtu (14/1).

Dia mengatakan, penurunan tersebut bukan hanya bahan bakar nabati atau biofuel, melainkan juga pangan dan industri. Dia mengatakan, penerapan B35 memang akan membantu meyerap produksi sawit.

Bahan bakar B35 akan berada di SPBU mulai 1 Februari 2023. Namun demikian. penyerapan domestik tidak akan bisa mengimbangi volume dan nilai ekspor. Dengan demikian, industri sawit Indonesia perlu melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor.


News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait