EBT Sebagai Solusi Energi Ramah Lingkungan

Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Tim Publikasi Katadata
14 Mei 2020, 10:23
Sejumlah pekerja beraktivitas di area instalasi sumur Geothermal atau panas bumi.
ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN
Sejumlah pekerja beraktivitas di area instalasi sumur Geothermal atau panas bumi.

Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan bauran energi baru terbarukan (EBT). Hal ini dilakukan untuk mengejar target bauran EBT, yang diharapkan mencapai 23 persen pada 2025.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menyampaikan bauran EBT merupakan bagian dari upaya menekan penggunaan energi berbasis fosil. Harapannya, EBT dapat menurunkan emisi dan polusi dari pembangikit listrik, serta memperkuat ketahanan energi nasional di saat bersamaan.

Realisasi dari pemanfaatan sumber energi ramah lingkungan ini sebagai pembangkit listrik pun menunjukkan perkembangan yang positif. Berdasarkan laporan capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2019, kapasitas pembangkit listrik EBT sejak 2015-2019 terus meningkat.

Besaran Kapasitas Pembangkit Listrik EBT --dalam Megawatt (MW)

(sumber: Capaian Kinerja Kemeneterian ESDM 2019)

Tahun 2019, EBT menyumbang total 10.157 MW kapasitas pembangkit dalam negeri. Penyumbang EBT paling besar datangnya dari tenaga air yang mendominasi hampir separuhnya.

Namun, yang menarik dalam tiga tahun belakangan pembangkit tenaga panas bumi/geotermal yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun yang paling besar. Pada 2019, total tambahan kapasitas pembangkit listrik EBT mencapai 376 ME dengan sumbangan PLTP mencapai 182,3 MW. Kontribusi panas bumi pun ada di peringkat kedua di bawah tenaga air dan diikuti oleh bioenergi. Sementara tiga sumber sisanya --surya, bayu/angin, hybrid--  masih terhitung sangat kecil dalam menghasilkan bauran energi.

Masih Jauh dari Target

Meski terus menunjukkan perkembangan bauran energi setiap tahunnya, kontribusi EBT masih jauh dari apa yang ditargetkan. Bauran pembangkit listrik EBT hingga tahun 2019 porsinya baru sekitar 12,36 persen.

Dominasi bauran energi untuk listrik masih didominasi oleh batu bara yang lebih dari 60 persen. Bahkan EBT juga masih kalah dengan gas yang memberi kontribusi sampai sekitar 23 persen.

(sumber: Capaian Kinerja Kemeneterian ESDM 2019)

Meski demikian, potensi berkembangnya EBT di Indonesia cukup besar, hanya saja perlu pemanfaatan yang lebih optimal. Untuk mendorong hal itu beberapa langkah strategis sudah diambil.

Akhir tahun 2019 lalu, Kementerian ESDM memproyeksikan sejumlah investasi untuk peningkatan pembangkit EBT sampai 2024, yang ditaksir mencapai US$ 36,95 miliar.

Berdasar keterangan resmi dari Kementerian ESDM, setidaknya ada tujuh investasi EBT yang masuk dalam periode waktu tersebut. Investasi-investasi itu terdiri dari PLT Panas Bumi sebesar  US$17,45 miliar, PLT Air atau Mikrohidro senilai US$ 14,58 miliar, PLT Surya dan PLT Bayu senilai US$ 1,69 miliar, PLT Sampah senilai US$1,6 miliar, PLT Bioenergi senilai US$ 1,37 miliar dan PLT Hybird sebesar US$ 260 juta.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait