Harga Minyak Terkerek Seiring Kabar Pengembangan Antivirus Corona

Ilmuwan Tiongkok dan Inggris sedang bekerja guna menemukan obat virus corona
Ameidyo Daud Nasution
6 Februari 2020, 09:20
harga minyak, virus corona, tiongkok
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara
Ilustrasi kilang minyak PT Pertamina (Persero). Harga minyak dunia hari Kamis (6/2) naik seiring kabar pengembangan vaksin virus corona

Harga minyak mentah dunia hari Kamis (6/2) terkerek setelah adanya laporan di sejumlah media yang menyatakan para ilmuwan sedang mengembangkan vaksin untuk mengobati virus corona. Kenaikan juga didukung oleh organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) yang mempertimbangkan pemangkasan produksi guna mengatasi potensi tekanan harga minyak global.

Dikutip dari Bloomberg pada pukul 7.49 WIB hari ini (6/2), harga minyak Brent untuk kontrak April 2020 naik 2,45% ke level US$ 55,28 per barel. Sedangkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Maret 2020 naik 0,61% menjadi US$ 51,06 per barel.

Sejauh ini, wabah tersebut telah menewaskan hampir 500 orang serta membuat aktivitas ekonomi global dan permintaan minyak terbebani. Sedangkan perusahaan minyak Tiongkok yakni Sinopec juga memangkas produksinya karena turunnya permintaan akibat wabah ini.

“Orang dapat melihat seberapa baik solusi medis atau indikasi bahwa kita telah mencapai titik balik dalam perkembangan wabah virus,” kata analis BNP Paribas Harry Tchilinguirian dilansir dari Reuters, Kamis (6/2).

Advertisement

(Baca: Efektif Lawan SARS dan MERS, Uji Klinis Antivirus Corona Dimulai)

Surat kabar asal Tiongkok yakni Changjiang Daily, melaporkan bahwa tim peneliti yang dipimpin Profesor Li Lanjuan dari Universitas Zhejiang, mengindikasikan obat Abidol dan Darunavir dapat menghambat perkembangan virus ini.

Secara terpisah, Sky News melaporkan ilmuwan Inggris membuat terobosan signifikan untuk menemukan vaksin. Caranya dengan mengurangi waktu pengembangan vaksin normal dari dua hingga tiga tahun menjadi hanya 14 hari.

Konsultan ekonomi kenamaan yakni Capital Economics juga memperkirakan konsumsi minyak di Tiongkok akan  turun 10% pada kuartal I 2020. “Ini berdasarkan perkiraan bahwa ekonomi Tiongkok hanya mencapai 3% pada kuartal I 2020,” demikian keterangan tertulis Capital Economics.

(Baca: Jokowi Serahkan Perawatan WNI Terdampak Virus Corona kepada Singapura)

OPEC dan sekutunya termasuk Rusia juga telah membahas dampak virus corona terhadap permintaan minyak dunia. Namun Rusia memberi sinyal bahwa mereka tak mendukung pemangkasan produksi lebih jauh.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait