Pertamina dan Exxon Temukan Potensi Penyimpanan CO2 1 Miliar Ton

Muhamad Fajar Riyandanu
14 November 2022, 09:45
CCUS, Pertamina
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara./hp.
Petugas memeriksa keran pipa sumur saat proses injeksi CO2 di sumur JTB-161 Mundu, Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (26/10/2022).

Pertamina dan ExxonMobil melaporkan hasil studi bersama yang menunjukkan potensi kapasitas penyimpanan karbon diaoksida (C02) di lapangan migas milik Pertamina hingga satu miliar ton. Angka ini diproyeksikan sanggup menyimpan secara permanen CO2 emisi seluruh Indonesia pada rata-rata saat ini, hingga 16 tahun ke depan.

Penemuan ini diharap menjadi titik cerah pengembangan bisnis teknologi penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon atau Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) dalam upaya dekarbonisasi di Indonesia.

Guna memperkuat komitmen pengembangan CCS di lapangan migas dalam negeri, Pertamina dan ExxonMobil kembali meneken kerja sama studi bersama untuk melihat potensi penyimpanan CO2 di formasi saline aquifer di wilayah kerja Pertamina. Selain itu, upaya dan inisiatif dekarbonisasi salah satunya melalui CCS juga diharapkan mampu memberikan sumbangsih pada aspek ketahanan energi nasional.

Saline aquifer atau reservoir air bersalinitas tinggi merupakan tempat penyimpanan gas CO2 yang dianggap cukup aman. Dengan berjalannya waktu, maka gas CO2 yang larut dalam air garam akan mengalami proses mineralisasi dan pengendapan. Hasil Studi Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas menunjukkan potensi penyimpanan 10 giga ton pada saline aquifer yang terletak di West Java dan South Sumatera Basin.

Selain untuk upaya penurunan emisi karbon, kerja sama pengembangan CCS juga diharap mendukung pertumbuhan ekonomi melalui investasi, pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan bagi negara.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Pemerintah Indonesia sedang berupaya mengembangkan regulasi yang mendukung CCS dan memulai pembahasan dengan Pemerintah di wilayah lain.

"Kesepakatan bersama ini merupakan landasan yang kokoh bagi Indonesia untuk secara mencapai target nol bersih Indonesia pada tahun 2060 atau lebih cepat,” kata Luhut pada seremoni penandatangan kerja sama di Nusa Dua, Bali pada Ahad (13/11).

Kesepakatan kerja sama ditandai dengan penandatanganan Head of Agreement (HoA) oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan President Asia Pacific Exxon Mobile Low Carbon Solution and President ExxonMobil Indonesia, Irtiza Sayyed serta disaksikan juga oleh Duta Besar A.S. untuk Republik Indonesia Sung Y. Kim.

Penandatangan HoA ini merupakan tindak lanjut Joint Study Agreement (JSA) yang ditandatangani di Amerika Serikat pada 13 Mei 2022. Melalui penguatan kerja sama ini, Pertamina dan ExxonMobil akan mematangkan dan menyiapkan rancangan model komersial untuk pengembangan hub CCS regional di wilayah kerja PT Pertamina Hulu Energi OSES dengan potensi untuk menyimpan CO2 domestik dan internasional.

Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, mengatakan kerja sama pengembangan CCS dan dekarbonisasi sejalan dengan upaya Pertamina mendukung program Pemerintah untuk mempercepat transisi energi dan target penurunan emisi sebesar 29% pada 2030.

“Salah satu lapangan terpilih ini miliki kapasitas yang sangat besar untuk menyimpan karbon dioksida. Implementasi teknologi tersebut akan memprioritaskan sumber daya di ranah domestik, pembukaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan bagi negara,” kata Nicke.

Nicke menegaskan cara cepat pengembangan transisi energi baru terbarukan dan dekarbonisasi di Indonesia adalah melalui kemitraan. Hal ini untuk menjawab tiga tantangan global sekaligus yaitu teknologi, pendanaan, dan sumber daya manusia.

Penerapan teknologi CCS, diharapkan akan berperan penting dalam menurunkan gas rumah kaca di atmosfer yang berkontribusi terhadap pemanasan global, perubahan iklim, pengasaman laut, dan hilangnya keanekaragaman hayati. “Pengembangan teknologi CCS memiliki dampak ganda, selain mengurangi emisi sekaligus meningkatkan produksi migas nasional,” kata Nicke.

Sebelumnya, Pertamina Hulu Energi (PHE) dan ExxonMobil sedang menjajaki proyek teknologi penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilizaton and storage (CCUS) di Cekungan Sunda-Asri yang ditarget beroperasi atau on stream pada 2027. Cekungan Sunda-Asri terletak dibagian barat laut Jawa, timur laut Selat Sunda, dan barat laut cekungan Jawa Barat selelah utara. Cekungan ini berbatasan dengan cekungan Sumatera Selatan.

CEO Pertamina Hulu Energi, Budiman Parhusip, mengatakan pihaknya tengah memperlajari rencana implementasi CCUS yang dinilai menjadi bisnis potensial di masa depan. Budiman menyebut, terdapat potensi penyimpanan 2.800 MT CO2 yang mampu ditampung di wilayah reservoir yang habis di area PHE.

"Ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk bekerja sama dengan setiap pemangku kepentingan untuk reservoir yang depleted," kata Budiman saat menjadi pembicara dalam acara IPA Convention 2022 ke-46 di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (22/9).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...