Exxon tengah mengembangkan teknologi penangkapan karbon langsung dari udara. Namun teknologi ini masih terlalu mahal dengan biaya penangkapan emisi CO2 mencapai US$ 600-1.000 per ton.
Komitmen mitigasi krisis iklim 10 perusahaan migas terbesar dunia di Eropa dan Amerika Utara dinilai masih lemah menurut penilaian kelompok investor Climate Action 100+.
Pembangkit listrik tebesar di Jepang, JERA setuju dengan Exxon Mobil untuk bersama-sama mengeksplorasi pengembangan proyek produksi hidrogen dan amonia rendah karbon di Amerika Serikat.
Raksasa migas dunia seperti Saudi Aramco, ADNOC, hingga Exxon Mobil mulai mengembangan ekstraksi lithium sebagai diversifikasi bisnis menyambut era kendaraan listrik.
Singapura bekerja sama dengan Shell dan ExxonMobil untuk mengembangkan fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) dengann potensi penyimpanan 2,5 juta ton CO2 per tahun.
Chevron akan mengakuisisi pesaingnya Hess US$ 53 miliar, sedangkan ExxonMobil mengakuisisi Pioneer US$ 60 miliar, untuk meningkatkan produksi migasnya, terutama migas serpih.
ExxonMobil tengah dalam proses negosiasi untuk mengakuisisi produsen minyak terbesar ketiga di Amerika Serikat (AS) Pioneer Natural Resources senilai US$ 60 miliar atau lebih dari Rp 930 triliun.
Perusahaan migas internasional, Repsol dan ExxonMobil Indonesia, membidik peluang bisnis dari jasa penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) di lapangan migas nasional.
Dunia diproyeksi gagal mencegah pemanasan global di bawah 2°Celsius pada 2050 karena sektor migas masih berkontribusi lebih dari separuh kebutuhan energi dunia yang meningkatkan emisi karbon.
Exxon berupaya mengeksploitasi potensi cadangan tambahan minyak 42 juta barel dari kegiatan pengeboran lima sumur infill dan dua sumur eksplorasi untuk lapisan klastik di lapangan Banyuurip, Blok Cepu
Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) dan Exxon mobil Cepu Limited (EMCL) menandatangai kontrak pengadaan rig pengeboran sumur di lapangan minyak Banyuurip Blok Cepu.