Rupiah dan Mata Uang Asia Anjlok Usai Stimulus AS Diluncurkan

Disetujuinya paket stimulus fiskal Negeri Paman Sam senilai US$ 1,9 triliun berpeluang membatasi pelemahan rupiah hari ini.
Agatha Olivia Victoria
8 Maret 2021, 10:12
Jim Urquhart Orang-orang berkumpul di Monumen Washington, tiga hari setelah protes sertifikasi Kongres AS tentang hasil pemilu November 2020 di Washington, AS, Sabtu (9/1/2021).
ANTARA FOTO/REUTERS/Jim Urquhart/WSJ/sa.
Senat AS pada Sabtu (6/3) meloloskan rancangan undang-undang (RUU) The American Rescue Plan yang mengatur tentang bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun.

Nilai tukar rupiah melemah 0,24% ke level Rp 14.335 per dolar AS pada pembukaan pasar spot pagi ini, Senin (8/3). Rupiah melemah bersamaan dengan kebijakan paket stimulus fiskal AS yang telah disetujui Senat.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia melemah pagi ini, seperti yen Jepang turun 0,07%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,13%, dolar Taiwan 0,31%, won Korea Selatan 0,64%. Kemudian, peso Filipina juba anjlok 0,01%, rupee India 0,26%, yuan Tiongkok 0,12%, ringgit Malaysia 0,22%, dan baht Thailand 0,2%. Adapun indeks dolar AS juga ikut melemah 0,02% ke level 91.96 saat ini.

Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan mengatakan bahwa kemajuan paket stimulus fiskal Negeri Paman Sam senilai US$ 1,9 triliun berpeluang membatasi pelemahan rupiah hari ini. "Ini juga didukung sikap dovish bank sentral AS," ujar Ahmad kepada Katadata.co.id, Senin (8/3).

Senat AS pada Sabtu (6/3) meloloskan rancangan undang-undang (RUU) The American Rescue Plan yang mengatur tentang bantuan Covid-19 senilai US$ 1,9 triliun dari Presiden Joe Biden atau sekitar Rp 27.170 triliun (asumsi kurs Rp 14.300 per dolar). Dengan lolosnya aturan tersebut, bantuan tunai sebesar US$ 1.400 atau sekitar Rp 20 juta per orang akan diterima warga AS mulai bulan ini, belum termasuk bantuan pengangguran sebesar US$ 300 (Rp 4,3 juta) yang dibayarkan per minggu, hingga September.

Ahmad menilai rupiah berpotensi masih tertekan karena data Non Farm Payroll (NFP) menunjukkan bahwa ekonomi AS menambah 379 ribu pekerjaan baru pada Februari 2021. "Selain itu tingginya tingkat imbal hasil obligasi AS turut menjadi pemicu kenaikan dolar," katanya.

Menurut dia, rentang pergerakan rupiah pada hari ini akan berada di support Rp 14.290 dan resisten di kisaran Rp 14.430 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyebutkan bahwa kurs Garuda melemah terhadap dolar AS setelah pidato Gubernur Bank Sentral AS, The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bahwa The Fed tidak akan melakukan intervensi dalam aksi jual besar-besaran obligasi di pasar keuangan AS. "Aksi jual itu mempengaruhi obligasi pemerintah Indonesia," kata Josua kepada Katadata.co.id.

Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia melonjak 3-12 basis poin pada hari Jumat (5/3). Rupiah diperkirakan berada di antara Rp 14.200-14.400 per dolar AS.

Dia menuturkan, rupiah sepanjang pekan kemarin melemah karena obligasi RI tenor 10 tahun naik 8 bps menjadi 6,69%, dibandingkan penutupan pada minggu sebelumnya. Volume perdagangan obligasi pemerintah pada hari akhir pekan kemarin tercatat Rp 18,48 triliun, lebih rendah dari volume hari sebelumnya yang sebesar Rp 19,35 triliun.

Josua menjelaskan bahwa tren dari kenaikan imbal hasil alias yield obligasi pemerintah AS sejak awal Februari 2021 hingga penutupan perdagangan Jumat kemarin juga dipengaruhi oleh ekspektasi peningkatan inflasi AS dalam jangka pendek sehingga mendorong keluarnya dana asing dari pasar obligasi negara berkembang. "Oleh sebab karena itu, percepatan pemulihan ekonomi nasional perlu didorong," ujar dia.

Advertisement

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait