BPS: Mobilitas Masyarakat Naik di Tempat Retail, Rekreasi dan Taman

BPS mencatat selain di tempat retail dan rekreasi, mobilitas masyarakat di taman juga semakin tinggi.
Image title
1 Oktober 2021, 10:37
BPS, mobilitas masyarakat, retail, taman
Muhammad Zaenuddin|Katadata
Calon penumpang berjalan menuju peron jalur layang (elevated track) di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (30/9/2021)

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan aktivitas mobilitas masyarakat sepanjang September semakin longgar. Di beberapa tempat mobilitas masyarakat meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

"Mbilitas ini berpengaruh terhadap aktivitas ekonomi, termasuk data-data ekonom yang akan dirilis BPS hari ini maupun data ekonomi lainya," kata Ketua BPS Margo Yuwono dalam Konferensi Pers virtual, Jumat (1/10).

BPS mencatat mobilitas masyarakat di tempat perdagangan retail dan rekreasi turun 2,7%, kendati demikian angkanya lebih kecil dibandingkan kontraksi bulan lalu 12,4%. Hal ini menunjukkan ada perbaikan mobilitas di tempat perdagangan ritel. "Angka penurunan ini lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi yakni Januari-Februari 2020," kata Margo.

Selain di tempat retail dan rekreasi, mobilitas masyarakat di taman juga semakin tinggi. Bulan lalu, pergerakan masyarakat di tempat ini terkontraksi 15%, tapi pada September mulai menyusut hanya 8,9%.

Begitu juga aktivitas di tempat transit, mobilitas masyarakat terkontraksi 28,4%. Kendati demikian, kinerjanya lebih baik dibandingkan kontraksi bulan lalu 37,4% serta kontraksi 45,3% pada Juli 2021 yang merupakan terdalam sejak awal tahun ini.

Margo menyebut pada pergerakan masyarakat di tempat kerja juga semakin membaik, tercermin dari kontraksinya yang semakin kecil yakni 16,6% dibandingkan dua bulan sebelumnya yang terus mencatat kontraksi di atas 20%.

Hal serupa juga pada mobilitas di tempat belanja kebutuhan sehari-hari yang semakin kuat. Mobilitas masyarakat di tempat ini sudah membaik dan tumbuh positif sejak Maret 2021, kinerjanya berlanjut dengan pertumbuhan 20,2% bulan ini. Sedangkan bulan sebelumnya, mobilitas di tempat ini hanya tumbuh 15,5%.

Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat di berbagai tempat tersebut, Margo mengatakan hal ini mendorong aktivitas masyarakat di dalam rumah semakin minim. Aktivitas masyarakat di dalam rumah meningkat di level tertingginya 13% pada bulan pertama PPKM, kemudian mulai turun menjadi 9,7% pada bulan lalu seiring pelonggaran restriksi, hingga bulan ini hanya tumbuh 6,5%.

Kendati demikian, Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman justru mengingatkan pemerintah bahwa lonjakan pandemi kerap diawali dengan pelonggaran aktivitas. Mobilitas manusia dalam jumlah besar akan berpotensi menjadi penularan Covid-19.

"Akhirnya, kegagalan dalam mengendalikan pandemi dan keinginan untuk beraktivitas akan merugikan kita sendiri," ujar Dicky kepada Katadata.co.id, Kamis (23/9).

Dicky juga menyinggung ledakan corona yang terjadi di Indonesia selalu terjadi usai adanya aktivitas masyarakat dalam jumlah besar. Beberapa di antaranya adalah libur panjang serta Natal dan Tahun Baru 2021 lalu. Hal ini termasuk langkah pemerintah untuk melonggarkan pintu masuk dari luar negeri.

Ahli Virologi Guru Besar Universitas Udayana I Gusti Ngurah Kade Mahardika memprediksi gelombang ketiga penularan akan terjadi pada Januari-Februari 2022. Terdapat kecenderungan kasus penularan Covid-19 akan menurun dalam rentang waktu tertentu sebelum melonjak lagi.

"Kasus gelombang ketiga pasti terjadi," kata Mahardika dalam webinar Badan Nasional Penganggulangan Bencana (BNPB) Indonesia, Kamis (30/9).

Infografik_Gelombang ketiga covid-19 masih mengintai
Infografik_Gelombang ketiga covid-19 masih mengintai (Katadata)

 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Yuliawati

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait