BPS Prediksi Neraca Dagang Berpotensi Defisit Semester I-2016

"Bayangan saya beberapa bulan masih akan begini (surplus kecil)," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo.
Yura Syahrul
15 Februari 2016, 19:04
No image

KATADATA - Di bulan pertama tahun ini, neraca perdagangan cuma surplus US$ 50,6 juta. Meski berhasil menghentikan rentetan defisit dagang selama dua bulan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan surplus dagang menciut pada semester I-2016, bahkan terancam defisit. Penyebabnya, impor bakal meningkat signifikan.  

BPS mencatat, impor Januari 2016 mencapai US$ 10,45 miliar atau turun 17,15 persen dibandingkan Januari tahun lalu. Sedangkan ekspor sebesar US$10,50 miliar atau menurun 20,72 persen dibandingkan bulan sama 2015. Alhasil, neraca dagang Januari 2016 hanya bisa mencetak surplus yang tipis sebesar US$ 50,6 juta.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo memperkirakan, pola seperti ini akan terus berlaku sepanjang paruh pertama tahun ini. “Bayangan saya beberapa bulan masih akan begini (surplus kecil),” katanya di kantor BPS, Jakarta, Senin (15/2). Namun, dia berharap kondisi tersebut akan membaik pada paruh kedua 2016. “Semester I masih pertanyaan. Saya optimistis semester II recovery di perdagangan internasional.”

(Baca: Impor Melemah, Neraca Dagang Januari Surplus US$ 50,6 Juta)

Penyebab terancamnya neraca dagang hingga berpotensi defisit adalah perkiraan meningkatnya impor. Langkah pemerintah memacu pembangunan infrastruktur akan mendorong impor bahan baku dan barang modal. Untungnya, kenaikan impor barang konsumsi bisa diredam oleh rendahnya harga minyak.

Sedangkan ekspor diperkirakan masih akan melemah karena harga komoditas menurun, termasuk harga minyak dunia. Komoditas yang mengalami penurunan harga di antaranya batubara, kakao, dan minyak sawit mentah (CPO). Harga karet, tembaga, emas, nikel, dan perak juga melorot di atas 10 persen.

(Baca: Tiga Tahun Selalu Defisit, Neraca Dagang 2015 Akhirnya Surplus)

Sebelumnya, Ekonom Mandiri Sekuritas Leo Putera Rinaldy juga memperkirakan, impor pada tahun ini bakal meningkat, khususnya impor barang modal. Penyebab utamanya  adalah beberapa proyek pemerintah sudah dilelang. Artinya, impor barang modal dan bahan baku akan meningkat.

Sekadar informasi, realisasi belanja modal pemerintah pada Januari lalu mencapai Rp 1,5 triliun. Nilainya jauh di atas realisasi pada bulan sama 2015 yang sekitar Rp 100 miliar. Melonjaknya realisasi belanja modal pada bulan pertama tahun ini karena total proyek yang sudah dikontrak mencapai Rp 25 triliun. Sedangkan yang sudah dilelang sebesar Rp 100 triliun.

Reporter: Desy Setyowati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait