Luhut mengatakan, megaproyek itu bisa selesai pada 2019. Tapi hanya sekitar 20 GW yang bisa komersial. "Sisanya masih dalam tahap penyelesaian konstruksi.”
Pembangkit Listrik
Arief Kamaludin|KATADATA

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berupaya mempercepat megaproyek pembangkit listrik 35 ribu Mega Watt (MW) atau 35 Giga Watt (GW). PLN menargetkan proses lelang dan penandatanganan perjanjian jual-beli tenaga listrik atau power purchase agreement (PPA) lebih dari 8 GW untuk swasta (IPP) rampung tahun ini.

Proses penandantanganan perjanjian jual-beli tenaga listrik dari PLN sebesar 4 GW juga diharapkan selesai tahun ini. Dengan begitu, jika ditambah dengan yang sudah meneken perjanjian jual-beli tenaga listrik, jumlahnya tahun ini bisa mencapai 30 GW.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Direktur Pengadaan PLN Supangkat Iwan Santoso mengatakan, sisanya sebanyak 5 GW juga dapat dilakukan tahun ini. “Karena kan kecil-kecil (kapasitas pembangkit), jadi cepat selesainya,” katanya di Jakarta, Selasa (23/8).

(Baca: PLN Buka Lelang Empat Proyek Program Pembangkit 35 GW)

Untuk mempercepat proyek listrik 35 GW, PLN juga sudah berkoordinasi dengan pemerintah. Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan, ada beberapa terobosan untuk mempercepat penyelesaian megaproyek listrik tersebut. Upaya terobosan itusudah dibahas dalam rapat koordinasi dengan Pelaksana tugas Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan.

Pertama, perusahaan pembangkit listrik swasta (IPP) bisa mencairkan dana jaminan sebesar 10 persen dari nilai investasi yang diserahkan kepada PLN. Sebelumnya, dana itu akan menjadi milik PLN kalau IPP tidak bisa menyelesaikan proyek listrik. Jaminan tersebut akan dipakai untuk groundbreaking atau peletakan batu pertama, meski proyek belum merampungkan pendanaannya (financial closing).

(Baca: ESDM dan PLN Evaluasi Proyek Pembangkit yang Mangkrak)

Kedua, PLN juga akan mempercepat proses lelang. Lelang yang sebelumnya membutuhkan waktu 14 bulan ditambah satu tahun untuk kepastian pendanaan, kini dipangkas menjadi tujuh hingga delapan bulan dengan kepastian pendanaan dalam enam bulan.

Ketiga, pemerintah akan mempercepat pengadaan lahan. Caranya melibatkan kementerian terkait dan pemerintah daerah. Keempat, proyek transmisi PLN akan menggunakan kas perusahaan dan pinjaman dari bank lokal. (Baca: Pemerintah Cairkan PMN Untuk PLN RP 10,5 Triliun)

Sementara itu, Luhut mengatakan, megaproyek listrik 35 GW itu bisa selesai sesuai keinginan Presiden Joko Widodo pada 2019 mendatang. Tapi hanya sekitar 20 GW yang sudha beroperasi secara komersial. “Sekitar 10 GW masih dalam tahap penyelesaian konstruksi,” kata dia di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (24/8).

Grafik: Pembangkit Listrik di Indonesia Menurut Jenisnya 2014

Artikel Terkait
Menurut Arcandra, saat ini ada beberapa perusahaan yang memang tertarik untuk mengelola kontrak blok tersebut.
Sebelum mencabut izin, Menteri ESDM Ignasius Jonan memberikan waktu kepada badan usaha.
Menurut MK, keberadaan maupun karakter panas bumi tidak memungkinkannya untuk dibagi-bagi secara administratif.