Total kerugian perusahaan-perusahaan tersebut mencapai Rp 5,9 triliun, naik tipis 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sebanyak 24 perusahaan pelat merah mengalami kerugian pada semester I tahun ini. Total kerugian perusahaan-perusahaan tersebut mencapai Rp 5,9 triliun, naik tipis 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Beberapa BUMN yang tercatat mengalami kerugian antara lain, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, dan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

 (Baca: Sepanjang Semester I, 24 BUMN Masih Merugi)

Dibandingkan tahun lalu, jumlah perusahaan yang merugi pada tahun ini berkurang. Pada 2016, jumlah BUMN yang rugi sebanyak 27 perusahaan. Tiga BUMN yang berhasil mengeluarkan tinta merah dari laporan keuangannya adalah PT Djakarta Lloyd (Persero), PT Nindya Karya (Persero), dan PT Varuna Tirta Prakasya (Persero).

 (Baca: Kerugian Garuda Disoroti DPR, Sri Mulyani: Pemerintah Akan Periksa)

Dari 24 BUMN merugi pada tahun ini, sembilan di antaranya dianggap sakit sehingga perlu melakukan restrukturisasi. Penyebab kerugian perusahaan negara itu diantarnya karena beban di masa lalu, kesalahan manajemen, hingga kalah bersaing dengan perusahaan swasta.

(Baca: Masih Merugi; Garuda, Krakatau Steel, Indofarma Tak Wajib Setor Dividen)

Artikel Terkait
Kajian dilakukan dengan menggandeng beberapa pihak seperti Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).