Menteri Keuangan Sri Mulyani memastikan belanja pemerintah akan difokuskan untuk agenda prioritas nasional pada tahun terakhir pemerintahan Presiden Joko Widodo sehingga defisit anggaran lebih kecil.
Kementerian Keuangan optimistis defisit anggaran tahun depan mampu ditekan di bawah 3% meski tekanan global yang meningkat berpotensi mempengaruhi penerimaan negara.
Banggar DPR dan pemerintah menetapkan pertumbuhan ekonomi dalam APBN tahun depan di rentang 5,3%-5,9%. Inflasi ditargetkan 2%-4% dan nilai tukar rupiah Rp 14.300-Rp 14.800 per dolar AS.
Pemerintah menargetkan defisit APBN di bawah 3% pada 2023 atau kembali ke level sebelum pandemi corona. Ada beberapa langkah yang disiapkan untuk menurunkan defisit anggaran negara.
Pemerintah menghabiskan Rp 83,3 triliun untuk merawat 1,4 juta pasien Covid-19 tahun lalu. Selain itu, Rp 33,2 triliun digunakan untuk membeli vaksin corona.
Defisit anggaran ini setara 4,85% terhadap produk domestik bruto (PDB) dan tak berubah dari usulan awal pemerintah meski target pendapatan dan belanja dinaikkan.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, realisasi pembiayaan utang per Agustus 2021 yang mencapai Rp 550,6 triliun, turun 20% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.