Jerman Siap Mendukung Sanksi Uni Eropa Kepada Rusia

Kanselir Jerman Olaf Scholz berjanji bahwa sanksi yang akan dikeluarkan Uni Eropa kepada Rusia tidak akan dicabut sampai Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani kesepakatan damai dengan Ukraina.
Image title
3 Mei 2022, 15:41
Uni Eropa
ANTARA FOTO/REUTERS/Michele Tantussi/RWA/dj
Ilustrasi, pengunjuk rasa anti perang membawa papan bertuliskan 'hentikan perang' di depan kekanseliran Jerman, setelah Rusia meluncurkan operasi militer besar atas Ukraina di Berlin, Jerman, Jumat (25/2/2022).

Uni Eropa tengah mempersiapkan sanksi kepada Rusia atas invasinya ke Ukraina, setelah pada Senin (2/5) Jerman, yang merupakan pelanggan energi terbesar Rusia, siap mendukung langkah sanksi kepada Rusia

Mengutip Reuters, Selasa (3/5), Komisi Eropa diperkirakan akan mengusulkan paket keenam sanksi Uni Eropa minggu ini terhadap Rusia atas invasi 24 Februari ke Ukraina, termasuk kemungkinan embargo untuk membeli minyak Rusia.

Sanksi terbaru yang akan dikeluarkan Uni Eropa ini memiliki potensi untuk melemahkan Rusia. Pasalnya, sanksi ini akan langsung menghantam minyak Rusia, yang selama ini menjadi andalan Moskow untuk mendanai invasi.

Keputusan akhir terkait sanksi ini baru akan diketahui usai rapat Komisi Eropa pada 4 Mei. Namun, Jerman, sebagai negara dengan perekonomian terkuat di Uni Eropa, telah menyuarakan dukungannya terhadap penjatuhan sanksi kepada Rusia. Hal ini diutarakan oleh Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck seusai mengikuti pertemuan Komisi Eropa pada Senin (2/5).

Advertisement

"Kami telah berhasil mencapai situasi di mana Jerman mampu menanggung embargo minyak," kata Habeck, dikutip dari Reuters.

Pernyataan lebih tegas dikeluarkan oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz, yang sebelumnya dikenal terlalu berhati-hati menanggapi invasi Rusia atas Ukraina. Ia berjanji, bahwa sanksi tidak akan dicabut sampai Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani kesepakatan damai dengan Ukraina.

"Kami tidak akan mencabut sanksi kecuali dia (Vladimir Putin) mencapai kesepakatan dengan Ukraina, dan dia tidak akan mendapatkannya dengan mendikte perdamaian," kata Scholz.

Sebelumnya, Uni Eropa telah menjatuhkan beberapa sanksi kepada Rusia sebagai protes atas invasi Moskow ke Ukraina. Sanksi tersebut termasuk di antaranya larangan impor batu bara, kayu, bahan kimia, dan produk lainnya yang diperkirakan memangkas setidaknya 10 persen dari total impor Rusia.

Namun, sanksi ini tidak begitu efektif karena negara-negara Eropa masih membeli minyak dan gas (migas) dari Rusia, yang merupakan dua komoditas andalan. Penjualan migas dari Rusia ke negara-negara Eropa turut andil dalam mendanai invasi. Hal ini akhirnya menjadi sorotan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy.

Menurut Zelenskiy, ekspor energi Rusia ke Eropa, sejauh ini sebagian besar dibebaskan dari sanksi internasional, yang hasilnya digunakan mendanai upaya perang Rusia dengan jutaan euro setiap hari. Oleh karena itu, ia menyerukan agar Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap komoditas energi Rusia.

"Paket sanksi harus mencakup langkah-langkah yang jelas untuk memblokir pendapatan Rusia dari sumber daya energi," kata Zelenskiy, dalam pidatonya, Senin (2/5).

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait