Ekonom Sebut Kenaikan Dana Infrastruktur Sebuah Langkah yang Tepat

Peneliti INDEF Bhima Yudhistira menyebut, adanya infrastruktur yang mumpuni dapat menurunkan biaya logistik serta menurunkan biaya investasi.
Agatha Olivia Victoria
4 Juni 2019, 11:59
pembangunan infrastruktur, alokasi dana pembangunan infrastruktur, APBN, biaya logistik
Publikasi PT Jasa Marga (Persero) Tbk
Presiden RI Joko Widodo bersama Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menteri BUMN Rini Soemarno meresmikan jalan tol Pandaan-Malang.

Peneliti Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menilai, peningkatan alokasi dana pembangunan infrastruktur dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai langkah yang tepat. Perbaikan signifikan dalam komponen infrastruktur sangat mempengaruhi perekonomian.

"Infrastruktur menjadi salah satu kunci perekonomian, karena berkaitan dengan konektivitas dan penurunan biaya logistik kita," ujar Bhima kepada Katadata, Selasa (4/6).

Telah diketahui, pada APBN 2019 pemerintah mengalokasikan dana Rp 415 triliun untuk pembangunan infrastruktur, naik Rp 4,6 triliun atau 1,1% dibanding alokasi infrastruktur pada APBN 2018.

Kenaikan alokasi pembangunan infrastruktur pada APBN 2019 diharapkan mampu mendekatkan antar wilayah dan mengurangi biaya logistik Indonesia.

Advertisement

Biaya logistik Indonesia menurut Bhima tercatat mencapai 24% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai Rp 1.820 triliun per tahun. Biaya tersebut merupakan biaya logistik paling tinggi di dunia.

Jika dibandingkan dengan negara lain, biaya logistik di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia yang sebesar 15% terhadap PDB. Dibandingkan dengan negara-negara maju, biaya logistik Indonesia malah kalah jauh. Biaya logistik negara-negara seperti AS dan Jepang, tercatat masing-masing sebesar 10%.

Bhima menegaskan, pembangunan infrastruktur khususnya penunjang logistik darat dan laut bisa membuat harga produk lebih kompetitif, serta mampu menurunkan biaya logistik khususnya kepada komoditas yang berorientasi ekspor.

Selain menurunkan biaya logistik, Bhima menyebut keberadaan infrastruktur yang mumpuni juga akan mempengaruhi biaya investasi. Ia menjelaskan, saat ini Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia masih berada diatas 6 dengan rasio ideal yakni dibawah 3.

"ICOR yang tinggi menunjukkan biaya investasi di Indonesia cukup mahal. Jadi semakin baik infrastrukturnya, maka ICOR akan semakin rendah pula," kata Bhima.

(Baca: Pembangunan Infrastruktur Tidak Akan Kendor Meski SDM Jadi Fokus)

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait