Korban Jiwa akibat Banjir dan Longsor Bertambah jadi 47 Orang

BNPB mencatat warga terdampak banjir dan longsor di Jabodetabek mencapai 409 ribu orang, paling banyak di Bekasi. Sementara korban jiwa mencapai 47 orang.
Image title
Oleh Agustiyanti
3 Januari 2020, 12:31
BNPB, banjir Jakarta, longsor, jakarta banjir, banjir jabodetabek, korban jiwa longsor
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Ratusan rumah warga terendam banjir di Perumahan Pondok Arum, Tangerang, Banten, Kamis (2/1/2019).

Badan Nasional Penganggulangan Bencana atau BNPB mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat banjir dan tanah longsor di wilayah Jakarta, Bogor, Tanggerang, dan Bekasi atau Jabodetabek hingga hari ini bertambah menjadi 47 orang.

Korban meninggal terbanyak berada di wilayah Bogor sebanyak 22 orang. Kemudian 8 orang di Kabupaten Lebak, 4 orang di Bekasi, 3 orang di depok, dan masing-masing satu orang di Tangerang dan Tangerang Selatan.

Adapun di wilayah Jakarta, terdapat 9 orang korban jiwa. Secara perinci, sebanyak 7 orang meninggal dunia di Jakarta Timur dan masing-masing satu orang di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat.

(Baca: BNPB Sebut Mayoritas Korban Banjir Meninggal Karena Tenggelam)

Sementara itu, penyebab meninggalnya korban paling banyak akibat terseret arus banjir mencapai 17 orang. Kemudian sebanyak 12 orang akibat tertimbun tanah longsor, 5 orang tersengat listrik, 3 orang hipotermia, 9 orang dalam pendataan, dan 1 orang hilang.

BNPB juga mencatat warga yang terdampak bencana banjir dan longsor hingga kemarin malam di wilayah Jabodetabek mencapai 409 ribu jiwa. Dari data warga terdampak bencana tersebut, paling banyak berada di wilayah Bekasi mencapai 366.274 jiwa.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan ekstrem hingga pertengahan Februari 2020. Terdekat, hujan ekstrem berpotensi terjadi pada 10-15 Januari 2020.

(Baca: Banjir Terjang Jakarta, Ahok Imbau Warga di Tepian Sungai Waspada)

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan ekstrem tersebut terjadi karena aliran udara basah dari Timur Afrika yang masuk ke wilayah Indonesia. Aliran udara basah tersebut diprediksi masuk pada 10-15 Januari 2020 dan berulang.

“Siklus berulang pada akhir Januari hingga pertengahan Februari 2020,” kata Dwikorita dalam Rapat Koordinasi Banjir Jabodetabek di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (2/1).

Ia mengatakan, sejumlah wilayah yang diprediksi akan terdampak hujan dengan intensitas tinggi hingga ekstrem meliputi Sumatera bagian tengah dan Jawa. Cuaca tersebut juga diperkirakan akan melanda Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan hingga tenggara.

Editor: Agustiyanti

Video Pilihan

Artikel Terkait