SKK Migas Persilakan Pertamina Ikut Tender Hak Partisipasi Blok Masela

Pertamina pernah berminat untuk ikut terlibat dalam proyek Blok Masela.
Image title
24 Agustus 2020, 18:15
SKK Migas, Dwi Soetjipto, blok masela, shell
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menyebut pemerintah kecewa dengan keputusan Shell yang memilih hengkang dari proyek Blok Masela.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi atau SKK Migas mempersilakan PT Pertamina untuk mengikuti tender dalam  pelepasan 35% hak partisipasi Shell Upstream Overseas Ltd di proyek Blok Masela. Pertamina pernah menaruh minat untuk ikut terlibat dalam  proyek Blok Masela.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan Shell bakal mencari penggantinya di Blok Masela melalui mekanisme tender. Ia pun berharap Pertamina bakal mengikuti proses tender.

"Kalau Pertamina minat tentu dipersilakan buka data dan menyiapkan proposal. Kami juga tidak bisa memaksa menjual ke Pertamina," ujar dia dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VII, Senin (24/8).

Pertamina pernah menyatakan minat untuk masuk ke dalam proyek tersebut. Namun, tawaran tersebut tidak direspons Inpex selaku operator Blok Masela.

Advertisement

"Saya  enggak tahu yang sekarang seperti apa, tapi Pertamina harus didorong. Bukan penugasan-penugasan. tapi proses tender untuk investor," ujarnya.

Di sisi lain, Dwi mengatakan pemerintah kecewa atas keputusan Shell Upstream Overseas Ltd yang memilih hengkang dari proyek Blok Masela. Kekecewaan tersebut telah disampaikan melalui surat yang telah dikirimkan SKK Migas kepada perusahaan asal Belanda itu. 

Shell terlebih dahulu menemui Menteri ESDM Arifin Tasrif untuk mengutarakan niat mereka keluar dari Blok Masela. Arifin kemudian menugaskan SKK Migas untuk mengirimkan surat ke perusahaan asal Belanda tersebut.

"Kami langsung dapat arahan kirim surat. Kami sudah kirim surat barangkali dua hingga tiga kali ke Shell. Menyampaikan bahwa pemerintah merasa kecewa. Pemerintah kecewa dengan langkah yang diambil Shell," katanya.

Meski kecewa,  pemerintah meminta Shell agar secepatnya merampungkan proses divestasi Blok Masela agar rencana operasi proyek ini terus tetap berjalan. Apalagi, lapangan gas ini direncanakan dapat beroperasi pada 2027 mendatang. "Jadi sesungguhnya kami sudah panggil mereka dan tanya. Kami juga sudah sampaikan tekanan untuk diselesaikan,"  katanya

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI Paramitha Widya Kusuma menilai, Pertamina seharusnya dapat mengajukan perpindahan kepemilikan sahamnya di Blok Selaru ke Masela.  "Opsi kedua, saham Shell dibeli Pertamina," katanya. 

Inpex Corporation saat ini telah bersinergi dengan Pertamina untuk menggarap blok Babar Selaru, Maluku. Perusahaan gas asal Jepang telah memberikan 15% hak partisipasi alias participating interest kepada Pertamina.

Mundurnya Shell dalam pengembangan Blok Masela akan berdampak besar terhadap penyelesaian proyek. Pendiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menilai rencana Shell keluar dari Blok Masela bakal menambah kompleksitas pengembangan blok migas tersebut.

Apalagi Inpex belum mendapatkan pembeli gas Blok Masela. "Siapa pembeli gas dari hasil produksi Blok Masela ini juga belum jelas," ujar Pri.

Selain itu, Pri menilai, kondisi pasar LNG global dalam lima tahun ke depan juga bakal over supply. Di sisi lain, penyerapan gas diproyeksi rendah. Sehingga biaya dan keekonomian untuk mengembangkan Blok Masela sulit dicapai.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Agustiyanti
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait