Jonan Targetkan Seluruh Desa Teraliri Listrik pada 2019

Arief Kamaludin|KATADATA
17/11/2016, 13.20 WIB

Pembangunan listrik di desa dengan menggunakan EBT merupakan alternatif untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di perdesaan lebih cepat. Pembangkit EBT tidak memerlukan fasilitas pendukung, seperti pembangunan transmisi dan  gardu induk. Sehingga tidak perlu lagi bergantung kepada PLN.

Menurut Jonan, investasi membangun pembangkit di wilayah desa terpencil juga tidak terlalu besar, sebab jumlah permukiman dan beban puncak listrik di desa tidak terlalu tinggi. Secara rata-rata untuk memproduksi 0,1 Mega Watt (MW), membutuhkan dana US$ 200 juta. Kapasitas pembangkit ini bisa mengaliri listrik untuk satu kecamatan.

Di sisi lain, Jonan mengakui program kelistrikan 35.000 MW, tidak bisa tercapai sepenuhnya. Dari target tersebut kira-kira hanya tercapai 19.700 MW. Meski tidak mencapai target, ia yakin kebutuhan konsumsi listrik masih tercukupi dan tidak akan terjadi pemadaman listrik secara bergiliran.

(Baca: Dewan Energi: Proyek 35 Ribu MW Cuma Beres 55 Persen Masa Jokowi)

Dengan begitu, Jonan optimistis rasio elektrifikasi di Indonesia dapat meningkat menjadi 95 persen pada 2019. Saat ini elektrifikasi Indonesia baru mencapai 88 persen. “19.000 mw selama lima tahun itu artinya dalam setahun 4.000 mw.  Ini besar, karena kalau rata-rata 25 tahun sebelumnya tidak sebesar itu,” ujar dia.

Halaman: